Tindak Lanjut Problematika Sistem Zonasi

oleh -44 views

Seputarmuria.COM, PATI – Problematika terkait aturan sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA Negeri Tahun Ajaran 2019/2020 memang masih diperbincangkan masyarakat.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Tengah Sunoto mengatakan, banyak di antara masyarakat yang mempersoalkan aturan mengenai persentase jalur prestasi. Aturan tersebut tertuang dalam Pergub Jateng nomor 9 tahun 2019 yang merupakan tindak lanjut Permendikbud nomor 51 tahun 2018.

“Begitupun di Pati. Di tengah masyarakat juga menjadi problematika terkait sistem zonasi ini,” ujarnya.

Sesuai Peraturan Gubernur (Pergub), dalam PPDB SMA tahun ini, 90% penerimaan siswa diambil dari jalur zonasi, 5% jalur prestasi, dan 5% jalur kepindahan orang tua.

Sunoto mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang menganggap kuota untuk jalur prestasi terlalu sedikit.

Merespon tanggapan masyarakat, dalam sebuah rapat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberi sikap responsif dan berkeinginan jalur prestasi ditambah untuk diusulkan menjadi antara 20 sampai 25 persen.

“Kepala Dinas Provinsi Jateng diperintahkan untuk konsultasi ke kementerian. Dan pada saat rapat itu, Pak Gubernur kami dengar juga langsung menghubungi menteri pendidikan. Selanjutnya Kepala Disdik Jateng diutus untuk ke Jakarta, membahas persoalan ini,” tuturnya.

Sunoto menambahkan, kemungkinan akan ada revisi Pergub yang menambah kuota jalur prestasi.

“Tapi aturan (baru) belum keluar ya. Masih berproses. Saya tidak mendahului, tapi mungkin nanti ada revisi Pergub,” ucapnya.

Sunoto memperkirakan, setelah revisi, rincian persentase untuk masing-masing jalur sebagai berikut.

Jalur prestasi di luar zona 5%; jalur kepindahan orang tua 5%; dan jalur zonasi 90% di mana 10% di dalamnya ada jalur prestasi di dalam zona.

“ada tambahan untuk jalur prestasi di dalam zona. Kelihatannya seperti itu settingannya. Tapi saya tidak bermaksud mendahului. Tetap kita tunggu bagaimana hasilnya nanti,” pungkasnya.

Sunoto menegaskan bahwa, adanya sistem zonasi dalam PPDB, merupakan iktikad baik pemerintah guna pemerataan pendidikan.

“Harapannya, kedepan tidak ada namanya sekolah favorit, kastanisasi dan lain sebagainya. Sekolah dianggap bonafit semua. Sebab semua ini demi mendekatkan masyarakat dengan sekolah,” terangnya.

Terkait hal tersebut pula, disebabkan bahwa pelajar berprestasi di luar zona masih memiliki kemauan bersekolah di tempat yang diinginkan. Oleh karena itu, ada pengembangan, agar jalur prestasi tidak paten di angka 5%.

“apabila sudah ada wadahnya, diharapkan sudah tidak ada masalah,” tegasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *