Takut Ketiban Sial Hingga “Protol” Jabatannya, Sampai saat ini Dukuh Ngaglik Desa Kedungasem Masih Ditakuti para Bidan untuk Dinas di Sana

oleh -883 views

Seputarmuria.com, REMBANG – Para warga Dukuh Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber protes lantaran adanya ketidakadilan pelayanan kesehatan. 

Protes itu dilayangkan kepasa pemerintah lantaran sampai saat ini, Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya bidan desa takut masuk atau bertugas di dukuh tersebut.

Suara warga itu disampaikan oleh Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kedungasem, Sukarjan saat menghadiri kegiatan dinamika pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, di pendapa Kecamatan Sumber, Senin (23/12/2019).

Dia menceritakan jika sampai saat ini ada hal yang membuat takut para ASN untuk berkunjung ke dukuh Ngaglik.

Ketakutan itu muncul lantaran mitos akan kena sial jika masuk Dusun Ngaglik. Baik itu jabatan akan dicopot, kecelakaan atau kesialan lainnya. 

Tak ayal, dengan adanya mitos turun temurun yang tidak jelas dari mana sumbernya, menjadikan pelayanan kepada masyarakat menjadi terganggu.

“Ngaglik menurut sebagian pejabat menakutkan. Sehingga tidak bisa atau belum mau berkunjung ke Ngaglik. Suatu misal dalam hal kesehatan. Di Ngaglik itu, sejak dulu sampai sekarang. Ketika ada bayi lahir yang menurut peraturan dari lahir sampai usia 40 hari dalam arti masa nifas, setidaknya ada 3 kali kunjungan bidan ke rumah. Namun sampai saat ini, belum pernah terjadi itu, Pak.” imbuhnya.

Sukarjan melanjutkan ketika ada proses pemeriksaan pasca persalinan, ibu dan bayi yang baru dilahirkan, dipindahkan ke luar kampung. Padahal kondisi ibunya masih lemas usai persalinan. Hal itu dilakukan masyarakat, agar memperoleh pelayanan kesehatan pasca melahirkan.

Sebelumnya ketika akad nikah bagi warga Ngaglik yang bedholan pun tidak bisa dilaksanakan di kampungnya. Namun setelah Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sumber dijabat oleh Jabat Alif. Selama 2 tahun ini, akad nikah bisa dilangsungkan di Dusun Ngaglik.

Menanggapi hal itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz memerintahkan jajarannya untuk tidak membeda – bedakan perlakuan terhadap masyarakat Ngaglik, terlebih karena mitos. Ia pun siap untuk berkunjung ke dusun Ngaglik.  .

“Pak Naib (penghulu) niku boten napa-napa to? Taksih gagah. Mangke kula tak mrika mangke. Tak ngajak Bu Bidan, Bu Inggi bareng-bareng nggih. Nek bar, ben bar kabeh. Nek isih, ben isih kabeh.” Tegasnya. 

Seputar bidan desa enggan masuk Ngaglik karena alasan takut, Bupati menganggap berlebihan mitos menjadi dasar untuk tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Ia meyakinkan bahwa pangkat, jabatan, atau bahkan kesialan sudah ada yang mengatur.

 Menurutnya kasihan masyarakat, manakala ASN tidak berani masuk Dusun Ngaglik. Apalagi jika mereka benar – benar membutuhkan pelayanan. (Ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *