Selain Corona, DBD pun Mengancam Jiwa

oleh -33 views

Seputarmuria.com, PATI – Meski saat ini masyarakat tengah disibukkan dengan pandemi corona, pencegahan dan penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mestinya tidak boleh dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Sebab, kasus DBD tetap ada.

Di Kabupaten Pati, sejak Januari hingga Februari 2020, terdapat 29 warga yang positif terjangkit DBD. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya harus mendapat perawatan di ICU. Dari lima yang mendapat perawatan di ICU tersebut, satu di antaranya telah meninggal dunia.

Hal tersebut disampaikan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Joko Leksono Widodo, ketika ditemui di kantornya, Selasa (24/3/2020).

“Menurut grafik Januari sampai Desember 2019, ada peningkatan kasus, namun tidak tajam. Dibanding Desember tahun lalu, pada awal Januari-Februari ini juga tercatat peningkatan. Desember lalu tercatat 10 kasus. Karena itu, di tengah wabah corona, DBD harus tetap jadi perhatian. Apalagi ini juga penyakit menular yang disebabkan virus,” tutur dia.

Joko menyebut, penanganan DBD melalui fogging oleh sebagian masyarakat seolah menjadi cara utama. Padahal, menurutnya, fogging merupakan penanganan lini ketiga.

Ia menjelaskan, pertama-tama, masyarakat dan praktisi kesehatan beserta lingkungannya mesti meningkatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang di Pati dikenal dengan gerakan Siaga Masyarakat Waspada Aedes Aegypti. Program ini secara resmi telah diterbitkan dalam Instruksi Bupati Pati pada 2016.

“Jadi, program itu masih berlaku. Pertama kita harus waspada. Jalankan apa yang diamanahkan di surat edaran bupati. Merupakan kewajiban kecamatan dan puskesmas beserta masyarakat mengadakan PSN. Utamanya kita adakan penyuluhan, kemudian gerak bersama, setiap komponen harus terlibat aktif. Dengan begitu masyarakat akan mandiri,” tegas dia.

Joko menyebut, dengan adanya tantangan lonjakan jumlah penduduk, masyarakat mesti dilatih agar mandiri dalam pencegahan DBD.

Lini kedua pencegahan DBD, lanjut dia, ialah melakukan kunjungan ke rumah warga, mengadakan penyuluhan door to door.

Setelah itu, lanjut dia, dengan tetap menjalankan PSN, barulah langkah fogging ditempuh.

“Fogging pun harus dilakukan secara selektif. Disesuaikan dengan penderitanya. Kami tidak mungkin percaya begitu saja pada laporan masyarakat tanpa pengecekan lebih lanjut. Misal dilaporkan ada tujuh, padahal yang gejala DBD hanya satu,” jelasnya.

Ia mengatakan, laporan masyarakat akan tetap pihaknya terima. Namun, Puskesmas setempat akan terlebih dahulu melakukan penyelidikan epidemiologi. Berdasarkan penyelidikan, akan ditentukan kapan harus lakukan fogging.

Sebab, kerap kali, dalam hal jumlah kasus DBD, antara laporan masyarakat dan hasil pemeriksaan yang valid terdapat ketimpangan cukup jauh.

“Seperti kasus awal tahun ini, berdasarkan laporan, tertera angkanya 137. Namun, ternyata setelah konfirmasi yang positif hanya 29. Jadi cukup jauh biasnya. Bahkan kurang dari sepertiga dari yang dilaporkan,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *