Sedekah Bumi Desa Lahar Digelar Tanpa Hiburan dan Kesenian

oleh -15 views

Seputarmuria.com, PATI – Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu merupakan salah satu desa yang selalu melestarikan tradisi sedekah bumi setiap tahunnya dan dilaksanakan setiap Kamis Pahing di bulan Apit (Dzulqo’dah).

Hal tersebut lantaran tradisi sedekah bumi dimaknai sebagai wujud syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil bumi melimpah. Namun demikian, oleh sebagian besar masyarakat menganggap bahwa tradisi seperti ini masih dikaitkan dengan sejumlah mitos.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, sedekah bumi di Desa Lahar dilakasanakan lebih sederhana. Hal itu sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh kepala desa setempat terkait pelaksanaan kegiatan di tengah pandemi covid-19 ini. Yakni, segala bentuk keramaian yang memicu adanya kerumunan ditiadakan.  

“Kami menggelar sedekah bumi dan terlaksana dengan baik sesuai rencana. Tentu dengan mematuhi protokol kesehatan oleh pemerintah,” ujar Kepala Desa Lahar, Setiawan Budhiaji usai melakukan ritual adat, (25/6/2020).

Tradisi dilaksanakan mulai pukul 10.00 – 11.00 WIB, yaitu para perangkat desa mengelilingi bekas peninggalan leluhur desa (Danyang). Lokasinya, berada di tengah pasar desa setempat. Rumah peninggalan leluhur inilah lebih dikenal dengan sebutan ‘punden’.

Pada prosesi itu, kepala desa beserta staf melakukan ritual adat mengelilingi punden didampingi oleh seorang dalang dan dua sinden. Setelah ritual selesai, dilanjutkan dengan doa atau bancakan. Dalam panjatan doa, sesepuh desa bersyukur atas limpahan karunia dari sang pencipta dan memohon agar masyarakat desa setempat diberikan kedamaian serta kesejahteraan. 

Usai selamatan, puluhan warga yang turut hadir mendapat nasi berkatan. Agar tidak rebutan, aparatur desa membagikannya secara rata. Namun, untuk masyarakat dari luar wilayah tidak diperbolehkan datang.

“Memang tidak seperti tahun sebelumnya yang biasanya banyak warga dari berbagai desa datang ke sini. Memang kami punya aturan di tengah pandemi ini. Tapi Alhamdulillah semua bisa terlaksana dengan baik. Semoga ke depan desa ini menjadi desa yang semakin tentram dan rakyatnya bisa bekerja dengan lancar dan mendapat barokah,” ucap Kades Lahar.

Pada masa pandemi virus corona ini, segala bentuk kesenian tradisional seperti ketoprak, kirab, pentas musik, dan turnamen baik sepak bola maupun volly ditiadakan. Bahkan, kesenian lokal seperti Gong Cik juga tampak tidak meemeriahkan acara sakral tersebut. Namun, pertunjukan wayang tetap dilakukan di punden setempat seiring dengan prosesi ritual adat. Hanya, durasinya tak lebih dari 10 menit. Sebab, wayang itulah syarat dari danyang desa setempat.

“Kegiatan memang kami sederhanakan. Saya tidak ingin memancing kerumunan orang banyak seperti tahun-tahun lalu,” tandas Kades Lahar. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *