Safin Ajak Warga Desa Ngagel Buka Warung Kelapa Kopyor Siap Konsumsi

oleh -1,845 views

Seputarmuria.com, PATI – Budi daya kelapa kopyor dengan teknik kultur jaringan diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan para petani di Kabupaten Pati. Selain itu, budi daya dengan bibit kultur jaringan juga digadang-gadang akan mampu mengembangkan potensi kelapa kopyor sebagai produk pertanian unggulan Kabupaten Pati.

Gagasan ini mengemuka dalam acara petik kelapa kopyor, penyerahan bibit kelapa, serta penyerahan perangkap hama yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kabupaten Pati di Kebun Paradiso, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Selasa (8/10/2019).

Wakil Bupati Saiful Arifin memberi gagasan tersebut guna membudidayakan kelapa kopyor kultur jaringan di masyarakat. Sesuai dengan sistem pemanfaatan pekarangan yang selama ini sudah berjalan di Desa Ngagel.

“Tadi saya sudah bisik-bisik ke Pak Kepala Dispertan, bagaimana kalau yang kultur jaringan itu kita budidayakan di masyarakat saja. Jadi setiap rumah punya 5 atau 7 kelapa kopyor. Selain memang gampang memeliharanya dan bisa diawasi terus, kalau sukses nanti tentu bisa untuk meningkatkan pendapatan,” ujarnya.

Safin menegaskan, kalau ingin memajukan pertanian, cara-cara modern dan sistem industrialisasi perlu diadaptasi. Menurutnya, cara tradisional tidak sepenuhnya bisa selalu dipertahankan.

Tak hanya itu, Safin juga memberi saran kepada masyarakat Desa Ngagel untuk membuat warung kelapa kopyor siap konsumsi.

“Jadi kalau orang jalan-jalan ke Dukuhseti, ada tempat yang dijujug (dikunjungi). Apalagi daerah sini sudah dikenal sebagai penghasil kelapa kopyor. Kalau ada warung yang menyediakan kelapa kopyor siap minum tentu lebih bagus lagi. Ini peluang bisnis, tapi tentu tidak bisa langsung ramai seketika,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dispertan Mokhtar Efendi menyampaikan, secara hitung-hitungan ekonomi, sebetulnya budi daya kelapa kopyor secara tradisional sudah cukup menguntungkan. Namun, untuk berupaya meningkatkan potensi kelapa kopyor, teknik kultur jaringan perlu dicoba.

Mokhtar menyebut, kelapa kopyor yang ditanam di Ngagel ialah varietas genjah yang sudah bisa berbuah dalam kurun 4 tahun.

Varietas ini bisa menghasilkan 13 tandan per pohon. Adapun satu tandan berisi sekira 10 buah kelapa.

Mokhtar melanjutkan, dalam satu hektar lahan dengan jarak tanam 8×8, setidaknya terdapat 150 batang pohon kelapa. Sehingga, satu hektar lahan kelapa yang dikelola dengan sistem tradisional dapat menghasilkan sekira Rp 200 juta.

“Ini belum 100% kopyor. Mudah-mudahan nanti laboratorium kita yang embrio kultur jaringan itu bisa berhasil. Nanti Insyaallah dalam satu pohon kopyor semua,” jelasnya.

Untuk diketahui, sebagaimana disampaikan Ketua Kelompok Tani Paradiso Desa Ngagel Imam Subiyanto, selama ini petani setempat masih memakai sistem “ketok”. Artinya, masing-masing buah kelapa diketuk-ketuk menggunakan tangan untuk mengetahui apakah kelapa tersebut kopyor atau tidak.

Karakteristik kelapa antara kopyor atau tidak, oleh yang sudah ahli, bisa diketahui dengan cara tradisional ini.

Terkait pemanfaatan lahan, lanjut Subiyanto, petani setempat menggunakan sistem pemanfaatan pekarangan. Sejauh ini, baru ada satu kebun kelapa kopyor di Desa Ngagel, yakni Kebun Paradiso. Selebihnya menanam di pekarangan.

“Setiap pekarangan rumah pasti ada pohon kelapa kopyornya. Tapi ada yang sedikit dan ada yang banyak. Kisarannya antara 5-50 pohon. Panennya tiap sebulan sekali. Dijual ke pengepul, harganya bervariasi tergantung kualitas buah,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *