Refleksi Pemenuhan Hak Anak di Hari Anak Nasional

oleh -5,124 views

Kebersamaan Jasmi bersama murid – muridnya ketika di sekolah

Seputarmuria.com, PATI – Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli menjadi salah satu momen penting bagi kemajuan dunia anak di Indonesia.

Tak terkecuali bagi seseorang yang telah mengabdikan 12 tahun masa hidupnya menjadi guru ini, sebut saja Jasmi, Pemilik sekaligus Pendiri PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Harapan Umat Pati. Dalam kesempatannya, Jasmi menyampaikan nilai-nilai yang bisa dimaknai sebagai bentuk refleksi peringatan Hari Anak Nasional (HAN).

Perempuan yang berprofesi sebagai guru ini berpendapat bahwa HAN bisa menjadi alat sinergi bagi masyarakat untuk memenuhi hak-hak anak.

“Peringatan Hari Anak Nasional merupakan momentum yang tidak boleh diabaikan sebab menjadi sarana untuk menggugah terwujudnya kepedulian serta partisipasi seluruh masyarakat Indonesia terhadap penghormatan, penghargaan serta jaminan terhadap hak-hak anak untuk tidak membeda-bedakan mereka,” ungkap Jasmi yang akrab di sapa Ustadzah, panggilan khas saat di sekolah.

“Setiap anak memiliki sedikitnya empat hak, yaitu Hak Hidup, Hak Tumbuh Kembang, Hak Perlindungan dan Hak Berpatisipasi. Keempat hak tersebut sudah dimiliki setiap anak sejak di dalam kandungan ibunya hingga lahir dan menjadi orang dewasa. Kita semua, yakni orang tua, masyarakat umum dan pemerintah harus bertanggungjawab untuk terwujudnya perlindungan hak-hak anak,” paparnya saat ditanyai pemenuhan hak-hak anak saat ini.

Lebih lanjut lagi, Jasmi juga menyadari adanya perubahan karakteristik anak di masa sekarang dibanding generasi sebelumnya, sehingga membutuhkan peran lebih dari orang di sekitarnya.

“Permainan anak sekarang mayoritas sudah beralih ke yang digital-digital, no gadget no life, memang seru sih, tapi dampaknya jelek. Kebiasaan anak sudah banyak berubah (dibanding) dari zaman dahulu. Beberapa mungkin bagus, tapi kebanyakan juga tidak. Akan sangat susah bagi kita untuk mengerahkan mereka seperti apa yang dulu pernah dilakukan generasi tua. Jadi yang bisa dilakukan adalah memantau dan menyesuaikan,” imbuhnya.

Terakhir, Jasmi berharap adanya peningkatan kesadaran akan hak, kewajiban, dan tanggungjawab anak.

“HAN menjadi penting untuk menjadi pengingat agar tetap memberikan yang terbaik untuk anak serta menjamin kemaksimalan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang seoranag anak,” tutup perempuan yang berkeinginan untuk bisa mendidik anak dengan karakter islami melalui PAUD yang dibangunnya. (Er/Fa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *