Rasa Haru Bupati Dengarkan Kisah Sejarah Pahlawan Raih Kemerdekaan di Pati

oleh -363 views

Seputarmuria.com, PATI – Bupati Pati Haryanto mengungkap rasa harunya setiap mendengar kisah sejarah tentang pertempuran mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di Pati, yang dibacakan dalam rangkaian prosesi taptu menjelang HUT Ke-74 Republik Indonesia di depan Gedung Juang Pati, Jumat (16/8).

Ia pun mengakui bahwa perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidaklah mudah.

“Kirab taptu malam ini juga diselenggarakan dalam rangka mengingatkan kita akan sejarah perjuangan para pahlawan. Bahwa perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia tidaklah mudah. Di sini kita hanya bisa introspeksi dan meneteskan air mata. Karena beliau (para pejuang-red) tidak bisa menikmati (kemerdekaan-red). Yang bisa menikmati adalah kita,” ungkap Haryanto di hadapan masyarakat yang menyaksikan prosesi taptu.

Sejarah singkat yang dimaksudkan Bupati dibacakan oleh Wakil Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Pati, Kapten Purnawirawan Untung Joko Suratno.

Untung menjelaskan, peperangan yang terjadi di Pati tidak bisa dilepaskan dari peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, 15-19 Oktober 1945.

“Oktober 1945, setelah Jepang menyerah (kepada Sekutu-red), di Semarang (tentara-red) Jepang tidak mau menyerahkan senjatanya. Tiap malam (tentara-red) Jepang berkeliaran sampai tanggal 14 Oktober 1945 pukul 1 malam,” jelasnya.

Saat itu, para pejuang juga harus menghadapi Belanda, dengan membonceng tentara Inggris, tentara Belanda hendak merebut kembali kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan.

Menurut Untung, perjuangan melawan Belanda pun berlanjut hingga peristiwa pemberontakan PKI di Madiun pada 1948.

“Tanggal 28 Desember 1948, setelah PKI dibubarkan oleh tentara Siliwangi dan Jawa-Bali, 5 orang gugur. Dua orang dari anggota PPI dan tiga orang anggota Masyumi. Keesokan harinya, 29 Desember 1948, di Pos Widorokandang, Saudara Gunawan dari anggota brigade mobil tertembak di rumahnya,” imbuhnya.

Untung meneruskan ceritanya, pada tanggal 11, 12, dan 13 Juni 1949 terjadi pertempuran antara tentara Belanda dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Pucakwangi.

“Esok harinya, di Kletek dan Sundoluhur, 21 tentara Belanda dihadang dan ditembak mati. Selanjutnya, sebagian tentara kita di bawah pimpinan penghadangan saudara Irmar Woto bertempur dengan pesawat Cocor merah di stasiun kereta api Pati. Sebagian lainnya (bertempur) di Patiayam. Saudara Ali Ahmadi gugur di Trowelo Kecamatan Gembong dalam pertempuran ini”, pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *