Petani Jeruk Ingin Adanya Budidaya Non Konvensional

oleh -1,023 views

Seputarmuria.com, PATI – Budidaya buah jeruk yang berlokasi di wisata petik jeruk Desa Soneyan Kecamatan Margoyoso saat ini dinilai masih perlu untuk dilakukan pengembangan lagi.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota Kelompok Tani Sanggar Manis, Warsito usai mendapat kunjungan Wakil Bupati Saiful Arifin bersama jajarannya. Tak hanya berkunjung, Wabup Safin beserta jajarannya pun melakukan diskusi bersama para petani jeruk setempat, Kamis (5/9/2019).

“Saat ini memang sudah baik. Kalau budidaya, bagaimana agar kedepan dilakukan dengan cara maupun inovasi yang lain agar tidak selalu konvensional namun sudah modern”, ujarnya.

Terkait dengan pemasaran, Warsito menyebut bahwa saat ini perkembangannya sudah baik. Hal ini ditunjang dengan adanya pasar buah maupun pasar jeruk, di promosikan secara online serta menarik perhatian masyarakat dengan menyediakan wisata petik jeruk.

“Oleh karena itu, harga pun sudah tergolong stabil. Untuk promosi secara online memang kami mengedepankan lokasi wisata ini. Yang mana pengunjung dapat memetik sendiri. Sebab, harga di penjual atau pasar dengan memetik langsung jelas berbeda”, imbuhnya.

Tak hanya dari masyarakat Pati saja, ia mengungkap bahwa pengunjung yang datang dari luar daerah pun juga banyak. Ini lah manfaat dari mempromosikan lokasi wisata ini secara online.

“Ada pengunjung dari Purwodadi, bahkan dari Tuban juga. Selebihnya merupakan pengunjung – pengunjung dari kabupaten sekitaran Pati”, pungkasnya.

Sementara itu, anggota Kelompok Tani Sanggar Manis yang lain Nahru, mengungkap bahwa di Desa Soneyan sendiri, ada setidaknya 40 orang yang memiliki kebun jeruk.

“Dari dulu, jeruk memang merupakan potensi andalan di daerah ini, tepatnya tahun 1960 hingga 1978. Dan budidaya dengan menghasilkan buah jeruk kualitas bagus dimulai tahun 2014. “, ungkapnya.

Sebab, lanjut Nahru, dulunya budidaya buah jeruk memang faktor utama sebagai penopang kebutuhan masyarakat di desa tersebut. Sayangnya, di tahun 1978 hingga 2010 tanaman jeruk di situ sempat terkena penyakit.

“Dan saat ini, lokasi wisata ini sebagian ada yang dikelola karang taruna, sebagian lagi dikelola oleh keluarga sendiri – sendiri. Pengunjung bebas masuk dan memetik. Bila ingin dibawa pulang maka ditimbang dahulu, apabila ingin dimakan langsung malah bisa sepuasnya”, pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *