Perayaan Waisak di Jrahi, Umat Buddha Selama Belasan Jam Paritta Suci

oleh -125 views

Seputarmuria.com, PATI – Umat Buddha di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Jawa Tengah telah melaksanakan Perayaan Waisak 2568 BE / 2024 dengan hidmah, Kamis (23/5/2024).

Selama berjam – jam, mereka telah membacakan Paritta Suci selama 15 jam di momen hari raya tersebut. Sebelum merayakan Waisak pada jam 20.52 WIB.

Mereka tampak khusuk membacakan buku doa maupun pujian di Vihara Saddha Giri Jrahi. Mereka duduk di depan patung Buddha sambil membacakan doa-doa.

Pengurus Vihara Saddha Giri, Ngaripin menyampaikan bahwa perayaan Waisak jam 20.52 WIB. Menjelang perayaan Waisak kami membaca paritta Suci minimal 15 jam.

“Saat puncak kita melakukan meditasi. Kita kebersamaan untuk melakukan kebersamaan. Umat Buddha di sini ada 277 perempuan 278 laki-laki”, ujarnya.

Salah satu umat Buddha yang mengikuti prosesi itu yakni, Jarmi. Ia mengungkapkan pembacaan paritta ini dimulai sejak 05.00 WIB sampai selesai. Biasanya pembacaan paritta ini mulai pukul 05.00 WIB sampai selesai.

Saat tiba puncak perayaan Waisak, mereka (umat Buddha setempat) pun berkumpul dan melakukan meditasi bersama. Setelah itu, mereka mengelilingi wihara termegah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu.

”Puncaknya nanti malam ada upacara mengelilingi wihara tiga kali sebagai simbol untuk keselamatan dan tolak bala’ atau membersihkan hal-hal negatif,” kata dia.

Untuk diketahui bahwa sebelum Hari Raya Waisak, umat Buddha melakukan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Berbeda dengan umat muslim, puasa umat Buddha mulai pada pukul 06.00 WIB. Sekitar pukul 11.30 WIB hingga 12.00 WIB, mereka diperkenankan makan maupun minum.

”Puasa mulai tanggal 21 April sampai dini hari tanggal 23 April 2024. Kita makan hanya dua kali sekitar pukul 05.00 WIB sampai 06.00 WIB dan sekitar pukul 11.30 sampai 12.00 WIB,” kata dia.

Namun setelahnya, umat Buddha tidak diperbolehkan makan maupun minum. Selain jam-jam yang disebutkan itu, tidak diperkenankan makan maupun minum. Kalau terpaksa kehausan, diperbolehkan minum, itu pun sedikit.

“Hanya air putih seperlunya, ndak boleh ada tambahan-tambahan, ndak boleh susu atau tambahan gula,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *