Peningkatan Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar Oleh Mahasiswi Undip

oleh -54 views

Wulandari bersama rekan tim dan dosen pembimbing menunjukkan hasil penelitiannya.

Seputarmuria.com, PATI – Cacing sutra yang digunakan sebagai budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan. Selain harganya lebih murah dan dapat mengurangi pencemaran kualitas air tambak/kolam, cacing sutra mempunyai kandungan gizi yang lebih lengkap dibanding pakan buatan.

Hal itu disampaikan Wulandari (23) Mahasiswi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro kepada Seputarmuria.com, Sabtu (13/7/2019).

“Dalam pendistribusiannya, diperlukan proses pembiusan, sebab cacing sutra mudah busuk,” ujarnya.

Wulandari kembali menjelaskan, bahan antiseptik dan anestesi yang biasa digunakan dalam proses pembiusan, mengandung senyawa eugenol.

“Cengkeh yang merupakan bahan utama pembuatan rokok, di dalamnya memiliki kandungan tinggi eugenol. Ini juga menunjukkan bahwa kemungkinan besar limbah rokok mengandung senyawa eugenol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar anestesi sehingga meningkatkan nilai ekonomis limbah dan mengurangi pembuangan di lingkungan,” terangnya.

Dilatar belakangi hal tersebut, Wulandari bersama kedua rekannya, yakni Mutia Apriliani (20) dan Rika Amelia (20) melakukan penelitian lebih lanjut terkait anestesi cacing sutra dari hasil distilasi limbah cair pabrik rokok.

Di bawah bimbingan Dr Pujiono Wahyu Purnomo, Wulandari bersama tim menghasilkan produk anestesi ramah lingkungan dari limbah cengkeh perusahaan rokok.

“Bahan limbah rokok yang digunakan adalah limbah cair cengkeh hasil produksi rokok dari Pabrik PT Djarum Oasis. Limbah tersebut kemudian didistilasi untuk mengambil minyak atsirinya. Minyak atsiri kemudian diekstrak untuk mendapatkan eugenol murninya. Eugenol inilah yang dijadikan sebagai bahan anestesi untuk cacing sutra,” jelasnya.

Berdasarkan hasil penelitian, pemberian anestesi limbah rokok pada cacing sutra mampu memperpanjang waktu hidup cacing sutra.

Menurut Wulan, waktu pengiriman cacing sutra dapat mencapai hingga 96 jam lantaran pemberian anestesi dari limbah rokok.

“Setelah 96 pembiusan dengan anestesi dari limbah rokok ini, dibutuhkan penyiponan dengan air tawar selama 5 jam untuk mengembalikan cacing sutra pada kondisi normal. Usai cacing sutra yang melalui penyiponan setelah dibius memiliki karakteristik yang sama dengan cacing sutra segar, yaitu berwarna merah cerah, bergerak aktif dan tidak bergerombol,” paparnya.

Inovasi ini, lanjut Wulandari, mampu mendukung peningkatan perikanan budidaya air tawar karena kebutuhan pakan alaminya terpenuh. Tak hanya itu, hal tersebut dapat mengurangi pencemaran di lingkungan bahkan menambah nilai ekonomis limbah. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *