Paling Diminati, Hingga Jadi Kue Penuh Kenangan, Prol Tape

oleh -676 views

Antini ketika menunjukkan produk prol tape yang saat ini laris manis

Seputarmuria.com, PATI – Kenangan menikmati makanan ketika masih kanak – kanak terkadang terbawa hingga dewasa. Hal ini disebabkan rasa yang khas pada makanan disertai peran penting dari indra perasa yakni lidah.

Hal ini disadari betul oleh Sri Antini (46). Ia kerap menerima komentar-komentar bernada nostalgia dari para pembeli kue tradisional bikinannya. Prol tape, nama kue itu.

“Orang yang beli prol tape buatan saya banyak yang komentar, ‘seperti kue zaman mbahku’ atau ‘jadi ingat zaman ibuku’,” tutur ibu dua anak ini ketika dijumpai di kediamannya, Rabu (17/7/2019).

Antini menyebut, prol tape merupakan kue tradisional yang telah dikenalnya sejak ia kanak-kanak. Sebagaimana namanya, bahan utama kue ini adalah tape singkong. Rasa kue ini legit.

Dari sejumlah sumber, kue ini dinamakan “prol tape” karena teksturnya yang lembut dan langsung “ngeprol” (pecah) dalam mulut ketika dimakan.

Dengan merek dagang “Dapoer Mom An’s”, Antini mengungkap tidak hanya membuat prol tape. Namun juga berbagai kue lain. Tak disangka, prol tape merupakan menu andalan yang paling banyak digemari.

“Semua berawal ketika saya membuat kue kebutuhan lebaran, seperti kue kering, egg roll, dan kurma cokelat. Dua tahun belakangan saya tambah salad buah. Kalau prol tape ini baru setahun belakangan. Tapi kemudian jadi yang paling banyak peminatnya,” ujarnya.

Menurut warga Desa Parenggan, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati ini, berdasarkan keterangan pembelinya, prol tape bikinannya diminati karena sudah jarang yang menjajakan kue tradisional ini di pasaran.

“Setahu saya di toko-toko kue adanya cake tape. Tapi prol tape ini beda dari cake tape. Cake tape lebih dominan tepung dan bahan adonan lainnya. Sedangkan prol tape betul-betul dominan komposisi tapenya,” jelas Antini.

Meski banyak diminati, setiap harinya Antini hanya memproduksi sekira 10 kotak prol tape. Sebab, untuk memasak kue pesanan pelanggan, ia sendiri harus meluangkan waktunya yang banyak terpakai untuk bekerja dan berkomunitas.

Tak hanya itu, sementara ini, semua proses memasak hingga bertransaksi dengan pelanggan masih ia kerjakan secara mandiri.

Kesehariannya, Antini bekerja di Sekretariat DPRD Kabupaten Pati. Di luar pekerjaannya, ia banyak bergiat di komunitas-komunitas sosial, antara lain Ayo Berbagi Pati dan Sedekah Rombongan.

“Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, antara pukul 5 sampai setengah 6, saya sudah harus berburu tape di pasar. Sebab, pukul 7 saja sudah tidak ada penjual tape,” jelas Antini.

Biasanya, pada sore hari sepulang kerja, ia memasak untuk pelanggan. Baru malam atau keesokan harinya kue itu sampai ke tangan pembeli. Ia memang menjual kue-kue bikinannya dengan sistem pre-order.

Ia mengungkap, setiap hari ia selalu membuat kue lebih dari jumlah pesanan.

“Sebagai antisipasi apabila ada yang pesan lagi. Selain itu, setiap hari saya juga selalu menyediakan yang khusus untuk saya berikan ke orang lain secara gratis. Bisa disebut sekalian promosi, disebut sedekah juga bisa,” terangnya.

Memasak prol tape rata-rata menghabiskan waktu 3,5 jam. Satu jam untuk mencabuti serabut tape, 1 jam untuk membuat adonan dan peng-oven-an tahap pertama, serta 1,5 jam peng-oven-an tahap kedua.

Prol tape bikinan Antini dijual dengan harga Rp 35 ribu per kotak. Meski diakuinya harga tersebut relatif mahal, namun, ia menjamin, harga itu sepadan dengan kualitas bahan-bahan yang ia gunakan.

“Bahan-bahan seperti susu, mentega, dan lain-lain yang saya pakai, saya pilih yang memang kualitasnya bagus dan agak mahal, bukan yang terlalu murah. Sebab, saya terbiasa memberi makan orang sesuai dengan apa yang saya makan. Prinsipnya seperti zakat fitrah, lah,” jelasnya.

Prol tape bikinannya memang ia konsep sebagai oleh-oleh. Bahkan, pada kemasannya tertulis “Oleh-oleh Bumi Mina Tani”.

Hingga saat ini, dengan konsep oleh-oleh ini, prol tape bikinannya berhasil tembus di sejumlah daerah. Antara lain Semarang, Yogyakarta, dan Balikpapan.

Bersama Komunitas UMKM Pati (KUPat), kue homemade nya juga kerap “tampil” di berbagai pameran UMKM.

Sejak Februari 2015, produk kue Antini telah mendapat perizinan P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan. Didapatnya izin ini sebetulnya membuatnya lebih leluasa untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Namun, produksi yang dihasilkan memang belum banyak sebab terbentur dengan kesibukan.

“Meski mengerjakannya sendiri, saya enjoy saja. Pengembangannya pun juga secara pelan – pelan. Sebab memang saya hobi masak kue,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *