Mudik dan Kesolehan Sosial

oleh -30 views


Oleh : Kiswanto, S.Pd
Guru Sosiologi SMA IT Bina Amal Semarang

Beberapa hari lagi jalan tol Trans Jawa yang menghubungkan JABODETABEK, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur akan ramai oleh kendaraan pemudik. Televisi di rumah kita pun akan penuh dengan “Live Report” arus hilir mudik para perantau. Titik-titik tertentu disepanjang jalur mudik akan berdiri Posko mudik yang didirikan berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta.


Halaman surat kabar akan penuh dengan serba-serbi di jalan raya, kuliner sepanjang jalur mudik dan tentunya tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh para pemudik. Hiruk pikuk menjelang Idul Fitri itu terjadi hampir tiap tahun dan sudah berjalan puluhan tahun. Sarana transportasi yang digunakan juga bervariasi. Mulai motor, mobil pribadi, bus dan berbagai sarana transportasi darat,laut dan udara.


Agenda saat orang-orang di tanah rantau menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke kampung halaman. Biasanya mudik mulai ramai ketika H-7 dan kembali ke kota H+7 Idul Fitri. Memang sudah menjadi hakikat manusia untuk kembali ke tanah asal mereka. Kembali setelah setahun mengadu nasib di kota dengan membawa rindu dan hasil jerih payah selama bekerja.


Di kampung halaman itulah, kita dapat mengingat masa kecil yang penuh keceriaan ketika bermain sepak bola, bola bekel, main kelereng, petak umpet, mandi di sungai, dan momen keceriaan lain. Kita pun bisa bercengkrama dengan orang-orang terdekat, seperti orang tua, saudara, teman-teman masa kecil. Kita juga akan mulai menemukan momentum saat orang-orang di desa berbicara dengan kata “lu”, “gue”, dan seterusnya. Mungkin ini yang dinamakan fase liminal yang artinya Saat seseorang merasa “tidak di sini dan juga tidak di sana”.


Sebagian orang berusaha memperlihatkan bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas masyarakat yang kekinian dan berusaha menunjukkannya kepada orang di kampung halaman mereka. Setidaknya itulah serba-serbi yang bisa kita jumpai saat mudik ke kampung halaman. Tentu kita harus lebih bisa mendalami ritus mudik ini sebagai momentum untuk semakin meningkatkan kesolehan sosial kita. Mari kita bersilaturahmi, kita temui orang-orang yang merasa pernah kita sakiti. Berjabat tangan untuk saling memaafkan pada hari nan suci, Idul Fitri.


Terlebih di tengah situasi bangsa yang masih memanas di tahun pasca Pemilu 2019, gesekan-gesekan yang terjadi akibat perbedaan pilihan politik, perang tagar di media sosial, sikap nyinyir sebagain orang terhadap sesuatu hal, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *