Mengerti Sejarah Pati Melalui Kirab Boyongan

oleh -841 views

Seputarmuria.com, PATI – Masyarakat Kabupaten Pati hari ini berbondong – bondong ke jalan untuk menyaksikan Kirab Prosesi Hari Jadi Kabupaten Pati ke-696.

Ditemui di ruang kerjanya sesaat sebelum menuju Pendopo Genuk Kemiri, Bupati Pati Haryanto menyampaikan harapannya agar prosesi kirab boyongan bisa dimanfaatkan warga masyarakat khususnya generasi muda untuk belajar sejarah tentang Pati.

“Sayang bila momentum lima tahunan ini dilewatkan sebab prosesi boyongan ini merupakan tonggak berdirinya Kabupaten Pati. Sehingga ini sekaligus bisa jadi ajang edukasi tentang Sejarah Pati”, ujarnya.

Lebih lanjut, Ahmadi, Kabag Humas Setda Kabupaten Pati yang juga merupakan salah satu penulis Buku Sejarah Pati menjelaskan kirab bahwa kirab itu disebut sebagai tonggak berdirinya kabupaten lantaran boyongan yang terjadi pada tahun 1323 itu diyakini sebagai tahun pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan untuk kemudian menjadi Kabupaten Pati.

Menurut Ahmadi, peringatan ini dikuatkan dengan Perda Nomor 2 Tahun 1994 yang telah menetapkan tanggal 7 Agustus 1323 sebagai Hari Jadi Kabupaten Pati.

Tahun ini, prosesi diawali dengan pengambilan duplikat pusaka Kuluk Kyai Kanigoro dan Keris Kyai Rambut Pinutung di Pendopo Genuk Kemiri.

Setelah para tamu undangan berkumpul di kanan kiri Pringgitan Pendopo Genuk Kemiri, acara pun dibuka oleh MC dalam Bahasa Jawa.

Gamelan pun disajikan saat Bupati Pati Haryanto duduk di Kursi Singgasana.

Kemudian, lanjutnya, duplikat pusaka yang diambil oleh Kades Kemiri pun diberikan pada Ketua DPRD untuk selanjutnya diserahkan ke Bupati Haryanto.

“Oleh Pak Bupati, pusaka itu lantas diberikan kepada Camat Pati yang kali ini berperan sebagai cucuk lampah untuk kemudian dimasukkan tandu dan diberangkatkan menuju Pendopo Kabupaten Pati”, terang Ahmadi.

Rombongan kirab berangkat dengan dipimpin oleh Cucuk Lampah yang naik kuda dengan didampingi dua Manggolo Yudho berkuda yang diperankan oleh Camat Pucakwangi dan Camat Gabus.

Masyarakat pun berdesakan memenuhi rute kirab yang melintasi Jalan Raya Sarirejo, Jalan Kembang Joyo Klegen Kalidoro / Jalan Pantura, Jalan Pemuda Klegen Sidoharjo, Jalan Pemuda Pati Kidul, Jalan Tombronegoro, dan finish Kantor Bupati Pati.

“Di keraton saja kereta kencana ini tak setiap saat bisa ditemui, maka mumpung ada di Pati, silahkan disaksikan”, ajak Kabag Humas.

Suasana kian meriah lantaran ada para Duta Wisata, Pati Batik Carnival, berbagai kesenian tradisional lokal, bahkan tiga gunungan yang siap diperebutkan.

Tiba di Pendopo Kabupaten, dua pusaka yang dikirab tersebut diserahkan oleh Bupati kepada Sekda Pati Suharyono untuk disimpan.

Setelah itu dilanjut prosesi jumenengan yang masih dalam rangkaian kirab boyongan.

Di prosesi ini, para tamu undangan mendengarkan serat kekancingan (Perda Nomor 2 Tahun 1994 tentang Hari Jadi Kabupaten Pati) dan sejarah singkat Kabupaten Pati.

Bupati Pati Haryanto yang bergelar Kanjeng Raden Aryo Haryanto Notodiningrat ini pun menutup prosesi jumenengan melalui pidato dalam Bahasa Jawa.

Hiruk pikuk warga yang menyaksikan begitu terasa di sekitar Jalan Tombronegoro lantaran Bupati langsung menuju ke jalan depan Kantor Bupati untuk menyaksikan masyarakat berebut gunungan dilanjut menyaksikan pertunjukan tari kolosal. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *