Melalui Uji Cita Rasa, Kopi Pati Terbukti Mumpuni

oleh -393 views

Seputarmuria.com, PATI – Uji cita rasa kopi (cupping) yang dilakukan oleh tim juri dari Java Legend dan Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) Jember terhadap 12 sampel kopi asli Pati menunjukkan bahwa kualitas kopi pati cukup mumpuni.

Hal tersebut disampaikan Kasi Promosi Produk Daerah pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati Alfianingsih pada hari pertama pelaksanaan Festival Kopi Pati 2019 di Plaza Pragolo, Sabtu (28/9/2019).

“Dari 12 sampel kopi yang dikirim petani untuk cupping, setelah melalui proses uji cita rasa hari ini, ada 8 yang memperoleh skor di atas 80. Minimal skor 80 itu sudah masuk kategori specialty. Artinya, kopi tersebut sudah layak untuk ekspor. Layak untuk pasar internasional,” ucap perempuan yang akrab disapa Fifin ini.

Menurutnya, kualitas kopi pati memang tidak kalah dari kopi daerah lain. Hanya saja, di antara masyarakat Pati sendiri masih banyak yang belum mengenal kopi pati.

“Oleh karena itu, Disdagperin menggelar festival kopi ini untuk pertama kali. Dan tujuannya guna mengenalkan kopi pati pada masyarakat,” jelasnya.

Sebagai informasi, dalam kontes uji cita rasa kopi ini, ada 12 sampel kopi dari 10 petani. Dan para petani ini berasal dari berbagai daerah penghasil kopi di Pati.

Berdasarkan hasil penilaian tim juri, kopi milik Muttaqin, petani asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Gunungwungkal, mendapat skor tertinggi, yakni 83,42. Dia adalah pemilik merek Kopi Jowo.

Untuk peringkat di bawahnya ialah Ngarjono, petani asal Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu. Petani dari Kelompok Tani Wana Lestari Pangonan ini meraih skor 82,50.

Sedangkan, peringkat ketiga ditempati Santoso, petani asal Desa Plaosan, Kecamatan Cluwak, dengan perolehan skor 82,33.

Juri yang sekaligus peneliti kopi dari Puslitkoka Jember, Cahya Ismayadi, mengungkapkan, secara umum, kopi dari Kabupaten Pati sudah terkenal. Penikmat kopi, ujarnya, tentu akan teringat kopi Jollong yang masyhur sejak zaman Belanda.

”Potensi kopi di Pati sebenarnya memang besar. Hal ini lantaran, Pati umumnya Pegunungan Muria tentu memiliki cita rasa khas tersendiri. Permasalahannya, petani yang menanam ada beragam, proses yang dilakukan juga bermacam-macam, jadi tidak sama. Ada petani yang bagus, ada yang tidak,” ujarnya.

Cahya mengatakan, ini merupakan sebuah tantangan untuk petani kopi Pati, serta petani kopi di lereng Muria yang secara umum ialah meningkatkan kualitas cita rasa dan produktivitasnya.

”Oleh karena itu, butuh dibranding dan dipasarkan secara lebih modern. Di Jawa Tengah ini banyak klaster-klaster kopi yang dulunya tidak banyak dikenal, tapi sekarang luar biasa.

Ia menyontohkan, seperti Kopi Temanggung, Dieng, kopi disana sudah luar biasa. Ia mengimbau agar pelaku kopi di wilayah Muria jangan mau kalah.

“Saya rasa dengan branding semacam itu, akan jadi motor penggerak kopi di Pati dan sekitarnya,” jelasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *