Mahasiswa STAIP Geruduk Kecamatan Tlogowungu, Salah Satunya dari Malaysia

oleh -437 views

Seputarmuria.com, PATI – Bupati Pati Haryanto menerima sebanyak 186 mahasiswa STAIP yang mulai 1 Oktober 2019 ini melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Tlogowungu.

Ketua STAIP, Aida Husna mengucapkan terima kasihnya kepada Pemkab Pati dalam hal ini Bupati Pati Haryanto yang telah mengizinkan, memberikan lokasi serta menerima secara langsung mahasiswa KKN.

“Mahasiswa yang mengikuti KKN ini, terdiri dari dua prodi (Red, program studi) yaitu Akhwal Al Syakhshiyah dan prodi Pendidikan Agama Islam. Pada KKN ini, kami lebih menekankan pada kompetensi yang ada di masing – masing prodi”, ungkapnya.

Sehingga dengan penekanan tersebut, lanjut Aida, maka fokus program yang dilakukan ialah pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan islam serta pemberdayaan masyarakat untuk keluarga sakinah. Yaitu, semuanya mengarah dan berorientasi pada sumber daya manusia (SDM) bukan sumber daya alam (SDA).

“Disamping nantinya para mahasiswa saat di lapangan menemui permasalahan yang terkait dengan bidang pendidikan islam ataupun berkaitan dengan hukum keluarga, kami berharap mahasiswa kami juga dapat memberikan solusi serta melaksanakan, menawarkan atau menginisiasi problem yang dihadapi khususnya masyarakat di Kecamatan Tlogowungu”, jelasnya.

Aida berharap kepada Bupati Pati beserta jajarannya, agar selalu memberikan bantuan, dukungan serta akses seluas – luasnya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dukungan ini ia harapkan guna dapat semakin mengembangkan sekolah tinggi tertua yang ada di Pati tersebut.

“Jumlah mahasiswa kita saat ini lebih dari 1.300. Tidak hanya dari Kabupaten Pati saja, namun juga dari luar daerah. Bahkan salah satunya yang mengikuti KKN ini berasal dari Malaysia”, pungkasnya.

Sementara itu, ditemui usia acara penerimaan KKN, Muhammad Naufal asal Selangor Malaysia dan domisili di Kedah itu mengungkap bahwa sebelum menjadi mahasiswa STAIP, ia pernah belajar di salah satu ponpes di Desa Talun, Kecamatan Kayen sejak akhir tahun 2013.

“Usai belajar di pondok, saya pun disarankan oleh pak kyai untuk sekalian melanjutkan kuliah. Yang akhirnya saya pun memilih STAIP. Disini jujur saja tidak ada keluarga, orang tua, kakek semuanya di Malaysia”, ungkapnya.

Terkait kultur atau budaya, ia menyebut bahwa tidak jauh berbeda dengan di Malaysia. Ia melihat, perbedaan memang begitu terasa ketika hari lebaran tiba, serta sering diadakannya acara haul.

“Selain itu juga saya menziarahi makam – makam wali maupun tokoh agama yang mana disini jauh lebih banyak. Membiasakan dengan budaya yang ada disini cukup penting bagi saya. Tak hanya itu, untuk berbicara bahasa jawa pun, masih belajar. Terlebih ada perbedaannya antara krama maupun ngoko”, paparnya.

Terkait program – program KKN yang akan diadakan, ia mengaku harus lebih di musyawarahkan terlebih dahulu kepada rekan tim nya. Ia berharap programnya nanti bersifat penyuluhan, yang mana dapat memberikan solusi maupun pencerahan terhadap permasalahan warga Kecamatan Tlogowungu. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *