Kopi tak Hanya Produk, Namun Wisata dan Budaya

oleh -278 views

Seputarmuria.com, PATI – Hari pertama Festival Kopi Pati 2019 diakhiri dengan acara sarasehan. Sarasehan tersebut menghadirkan enam pembicara yang tentu kompeten di bidangnya. Produktivitas menjadi pembahasan serius dalam forum yang diikuti para petani kopi dan juga pemroses kopi tersebut.

Satu dari enam pembicara, Sri Mulato mengungkapkan, kegiatan promosi serta branding kopi lokal ini memang sangat penting. Yaitu guna mengangkat citra produk kopi lokal.

”Bagaimanapun kopi di tiap daerah pasti memiliki cita rasa khas. Begitu juga dengan kopi Pati,” terang pria yang juga pernah menjadi peneliti kopi dan kakao di Puslitkoka Jember, dan menjadi profesor yang mengajar di beberapa perguruan tinggi ini.

Namun, Sri Mulato menegaskan, agar ini tidak sekadar festival dan kegiatan branding produk saja yang dilakukan. Namun juga diimbangi dengan produksi. Hulu dan hilir harus seimbang.

“Jangan sampai setelah produk kopi sudah sangat terkenal dan permintaan pasar banyak, produksinya tak mampu terpenuhi. Di banyak daerah sudah terjadi. Problem kita ini ada pada produksi yang rendah. Oleh karena itu hulu di petaninya produksinya harus dimaksimalkan juga selain di hilirnya yaitu di pemasarannya. Pemerintah daerah harus hadir,” jelasnya.

Ia pun bercerita, bagaimana pernah terjadi ada kopi yang menjadi juara di Perancis, namun ketika ada yang meminta lagi pesan 100 kilogram, petani yang bersangkutan tidak bisa memenuhi. Ini problem yang terjadi. Maka dari itu hulu dan hilir harus mendapat perhatian dengan porsi yang sama maksimal.

Menanggapi hal tersebut, Santoso, Kabid Perdagangan Dalam Negeri dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Jawa Tengah mengatakan, pihaknya siap mendukung apapun dalam rangka peningkatan kualitas serta produktivitas.

“Tadi misalnya ada yang mengeluh mesin roasting dan alat-alat untuk memproses itu mahal, ya kami akan coba bantu misalnya nanti melalui skema kelompok,” terangnya saat menjadi pembicara di forum sarasehan tersebut.

Ia meyakini, melihat sekarang banyaknya anak muda yang mulai mau turun menggeluti kopi. Potensi, lahan, dan SDM muda-muda ini dirasa menjadi investasi besar, terlebih kopi di Jawa sedang trending.

“Saya melihat di banyak daerah, kopi tidak hanya sebuah produk akan tetapi menjadi wisata dan juga budaya,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *