Kompetensi di Bidang Literasi Yang tak Akan Basi

oleh -251 views

Seputarmuria.com, PATI – Kemampuan membaca dan menulis, merupakan satu di antara kompetensi yang harus dimiliki pemuda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut Direktur Penerbit Maghza Pustaka M. Iqbal Dawami dalam seminar kepemudaan bertema “Mempersiapkan Generasi Muda yang Mempunyai SDM Unggul dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045”, Sabtu (14/12/2019).

Seminar yang bertempat di SMK NU Pati ini digelar oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati dan diikuti kurang lebih 40 peserta.

“Tradisi membaca dan menulis perlu ditanamkan sejak dini. Kalau punya kompetensi di bidang literasi, masa depan akan cerah,” ujarnya.

Iqbal meyakini, sekalipun medium tulisan bisa berganti seiring perkembangan teknologi, konten tulisan tetaplah diperlukan.

“Bahkan, menurut saya, dunia digital itu 90 persen terkait teks. Maka, skill menulis tidak akan basi. Apalagi jika ditambah elemen lain, misalnya bahasa Inggris, coding, dan hal lain yang terkait internet,” imbuhnya.

Melalui penguasaan di bidang keterampilan menulis, menurut Iqbal, berbagai produk tulisan bisa dihasilkan, mulai dari copywriting, artikel, status media sosial, hingga ulasan produk.

“Dasarnya menulis, bisa menopang semua itu,” pungkasnya.

Sementara itu, M. Noor Effendi, satu di antara dua narasumber dalam seminar tersebut menyampaikan bahwa selain mampu menciptakan inovasi, generasi milenial juga perlu menjaga integritas sebagai penegasan karakter. Dengan integritas maka kedisiplinan dan profesionalisme dapat terjamin.

Menurutnya, untuk dapat berinovasi, generasi milenial / generasi Y perlu diberi ruang untuk memaksimalkan potensinya.

“Sebab, karakteristik generasi ini yaitu tidak mau diatur tapi kreatif. Ketika dikasih ruang, mereka akan ngegas”, imbuhny.

Dalam mengembangkan potensinya untuk berinovasi, lanjut Fendi, generasi milenial juga perlu memahami tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Menurutnya, peran kritis perlu diambil sebagai andil untuk memastikan SDGs tidak bias aplikasi. Mengingat, pencapaian SDGs berpengaruh pada martabat bangsa.

Selain itu, Fendi juga mengingatkan pentingnya bagi generasi milenial untuk menghindarkan diri dari pusaran hoaks.

“Mengingat, hoaks menjadi faktor penghambat inovasi. Hoaks juga menyerap energi besar dan menjadikan bangsa tidak produktif. Sejauh ini hoaks ‘dihadirkan’ dan digencarkan pihak-pihak yang tidak menginginkan bangsa ini bergerak maju. Bisa jadi karena pertarungan politik dan ekonomi maupun ideologi,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *