Komitmen Raih Prestasi, Pengurus POBSI Pati Kecewa Anggaran Pembinaan Terlalu Minim

oleh -521 views

Seputarmuria.com, PATI – Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Kabupaten Pati merasa kecewa disebabkan dana hibah untuk pembinaan yang pihaknya terima belum sesuai dengan ekspektasi.

Sebagai informasi bahwa pada tahun anggaran 2024 ini, POBSI Pati mendapat dana hibah sebesar Rp 15 juta.

Ketua POBSI Pati Endro Edy Yulianto menilai, dana hibah tersebut jauh dari kata memadai bila digunakan melakukan pembinaan selama satu tahun.

“Untuk dana hibah tahun ini, POBSI Pati menerima anggaran hibah untuk pembinaan cabor besarnya Rp 15 juta. Kami anggap itu jauh dari ekspektasi, kurang untuk pembinaan selama satu tahun,” ungkapnya pada wartawan, Selasa (2/4/2024).

Ia menyebut di tahun sebelumnya, POBSI masih bisa menerima dan tidak mempermasalahkan terkait minimnya anggaran yang didapat.

Ia menyadari, memang harus menunjukkan prestasi terlebih dahulu untuk mendapat perhatian lebih.

” alhamdulillah dapat delapan medali pada Porprov 2023, yaitu 1 emas, 1 perak, dan 6 perunggu. Hal itu tentunya sangat menggembirakan. Apalagi POBSI Pati baru pertama kali ikut ajang Porprov,” ucap dia.

Endro mengaku heran dengan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan besaran dana hibah. Menurutnya, ada cabor lain yang prestasinya tidak sebaik biliar, namun mendapat jatah anggaran pembinaan jauh lebih besar.

“Anggaran Rp 15 juta itu sangat jauh, sangat minim untuk bisa berprestasi lagi di ajang selanjutnya. Kemarin di proposal kami usulkan hampir Rp 100 juta. Itu tidak terlalu muluk karena cabor lain juga banyak yang di kisaran itu,” ujar dia.

Sedangkan untuk kegiatan latihan selama satu tahun, biaya yang dibutuhkan cukup besar. Seperti contoh, ongkos sewa meja biliar per jam di Pati mencapai Rp 35 ribu. Karena itu angka sekitar Rp 100 juta untuk pembinaan selama satu tahun dia anggap tidak berlebihan.

“Kami hanya mengharap dinas dan institusi terkait bisa memikirkan untuk bisa menambah (anggaran pembinaan). Karena kami bingung parameter apa yang dipakai untuk menentukan besaran anggaran pembinaan. Dari data yang saya baca, ada tiga cabor peraih medali emas yang justru dapat anggaran paling minim,” pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *