Kesaksian Warga Pati yang Berhasil Pulang dari Wamena

oleh -284 views

Akbar (baju hitam), warga asal Pati yang merantau di Wamena saat di tempat pengungsian.

Seputarmuria.com, PATI – Selama di Wamena, Akbar tinggal di ruko yang juga digunakan sebagai tempat pembuatan stiker. Akbar mengaku sudah dua tahun di Wamena kemudian pulang ke Pati pada bulan Januari 2019.

Hal tersebut diungkapkan oleh Akbar Dwi Setyawan asal Dukuh Jambean Rt. 3/2 Desa Sidokerto Kecamatan Pati yang berhasil selamat pulang kembali ke Kabupaten Pati, setelah mendapat pengalaman mencekam saat merantau di Wamena.

“Setelah itu, kembali ke Wamena lagi awal bulan September 2019. Baru tiga minggu disana, terjadi bentrok terdampak akibat video yang tersebar di dunia maya dan belum diketahui kebenarannya, dimana seorang guru ‘pendatang’ yang menyebut siswa / masyarakat pribumi dengan sebutan “kera”.

“Baru awal disana, kondisi dan aktivitas di Wamena masih aman dan kondusif. Namun, sudah banyak muncul isu demo dari warga pribumi”, ungkapnya saat ditemui, Minggu (6/10/2019).

Ia masih mengingat betul, di tanggal 23 September terjadi demo dadakan, oleh anak sekolah jenjang SMA derajat dan mahasiswa yang bertempat di kota Wamena. Namun demo tersebut tanpa diduga berujung anarkis, lempar batu, dan bakar – bakar.

Sedangkan, kondisi warga Pati yang bekerja di Wamena, ada satu orang yang luka berat di bagian kepala disebabkan, saat hendak melarikan diri dari tempat tinggalnya yang tak lagi aman, namun sudah dikepung oleh warga pribumi yang melakukan aksi sterilisasi. Untungnya, bu Yani (60) th asal Runting, Kecamatan Pati yang terluka itu berhasil diselamatkan oleh warga pribumi sendiri yang tidak ikut aksi sterilisasi.

Pada dasarnya, warga pribumi ingin mengsterilkan para pendatang dari tanah Wamena. Sebanyak 15 orang asal Pati pun berhasil di amankan oleh aparat setempat.

“Sebelum kembali ke tanah Bumi Mina Tani, kami sempat mengungsi dan diamankan di Polres Jayawijaya selama seminggu”, imbuhnya.

Warga pendatang di tempat pengungsian

Selama seminggu itu, mereka mengungsi di Polres guna mengantri untuk di evakuasi menggunakan pesawat herkules secara gratis oleh pemerintah setempat. Kemudian, hari selasa 2 Oktober 2019, Akbar terbang menuju merauke bersama dua orang yaitu, 1 orang dari Sumbermulyo Winongkidul, dan 1 orang dari Rembang.

Ada dua lokasi tujuan yang membawa Akbar bersama dengan yang lain yaitu menuju Jayapura dan Merauke. Kebetulan Akbar terbang menuju Merauke. Di Merauke, Akbar menyebut terdapat paguyuban warga Pati, dan ia pun ditampung di kediamannya.

“Para pendatang yang mendarat di Merauke pun langsung berkumpul dengan paguyuban daerahnya masing – masing”, ucapnya.

Setelah itu, Sabtu (5/10/2019) pagi jam 09.00 pun terbang dari Merauke menuju Surabaya. Sampai di Surabaya jam 16.00 sore. Kemudian dari Surabaya menuju Pati menaiki bus sinar mandiri. Dan Sampai di Pati kurang lebih jam 12 malam.

“Selama disana, saya menyaksikan ruko – ruko, rumah dan kendaraan milik warga pendatang yang dibakar oleh warga pribumi”, pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *