Keluarga Harus Mendominasi Dalam Perlindungan Anak

oleh -942 views

Kabid PPPA Dinas Sosial Kabupaten Pati Etik Tri Hartanti saat ditemui di kantornya, Selasa (23/7/2019)

Seputarmuria.com, PATI – Di Kabupaten Pati, tercatat bahwa angka kekerasan pada anak yang melingkupi kekerasan seksual, perkelahian anak, kekerasan psikis dan seterusnya, hingga bulan Juli 2019 telah jauh menurun dibandingkan dengan tahun 2018.

Hal tersebut disampaikan oleh Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pati Etik Tri Hartanti saat mengungkapkan angka kekerasan pada anak di Kabupaten Pati.

Berdasarkan data yang selama ini masuk, dari macam – macam kekerasan anak yang ada, kekerasan seksual pada anak adalah yang paling dominan. Hal ini lantaran, kekerasan seksual pada anak dilakukan oleh orang – orang terdekat anak tersebut. Sehingga orang lain pun akan sulit mengetahui.

“Biasanya dilakukan oleh orang – orang terdekat. Dan anak – anak tersebut biasanya di usia 2 sampai 10 tahun, atau jenjang TK hingga SD. Dan kebanyakan, di dominasi di daerah – daerah endemis, atau yang jauh dari pusat kota”, ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (23/7/2019).

Oleh karena itu, lanjut Etik, sebagai bahan evaluasi serta refleksi memperingati Hari Anak Nasional, pihaknya menekankan akan gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak yang dimulai dari keluarga.

“Keluargalah yang harus mendominasi perlindungan anak. Sebab, banyak hal yang harus dilakukan keluarga dalam melakukan pengawasan terhadap anak. Kalau seperti perkelahian anak, itu kurangnya perhatian dari orang tua, sedangkan kekerasan seksual biasanya dipicu karena kurangnya pengawasan orang tua”, jelasnya.

Etik menyebut bahwa kekerasan pada anak, umumnya terjadi pada anak – anak usia TK hingga SD sedangkan untuk perkelahian anak, terjadi pada jenjang usia SMP dan SMA. Selain angka kekerasan anak yang menurun, pihaknya menegaskan selalu gencar juga dalam mensosialisasikan terkait pernikahan dini.

“Sosialisasi pencegahan pernikahan dini dilakukan sebab, mereka yang menikah dibawah batasan umur yang ditentukan, baik secara fisik memang belum siap, begitupun secara mental atau psikis yang masih labil”, imbuhnya.

Guna melakukan pencegahan tersebut, pihaknya menyebut melakukan sosialisasi yang bekerjama dengan sekolah seperti halnya saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beberapa waktu. Tak hanya itu, sosialisasi juga akan menyebar hingga ke desa – desa.

“Dengan belum siapnya anak – anak ketika menikah, maka akan memicu perceraian. Adapun sebab pernikahan dini biasanya karena pergaulan bebas yang berujung hamil diluar nikah hingga harus dinikahkan. Kurangnya perhatian dan ditinggal orang tua merantau pun menjadi salah satu faktornya. Oleh karena itu, demi mencegah hal tersebut, kita selalu berusaha giat melakukan sosialisasi”, pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *