Kasus DB Masih Didominasi Anak – Anak, Pagi Hari Waktu Rawan Terkena Gigitan Nyamuk

oleh -418 views

Ilustrasi Ruang Cattleya untuk pasien DB di RSUD RAA Soewondo Pati

Seputarmuria.com, PATI – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati dr. Aviani Tritanti Venusia mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan berhati – hati pada saat memasuki musim penghujan terhadap nyamuk aedes aegypti (nyamuk demam berdarah).

Pihaknya mengungkapkan bahwa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih didominasi oleh usia anak – anak sekolah.

“Banyak anak – anak yang mudah menderita DB ini karena nyamuk – nyamuk tersebut menyerang disaat jam – jam sekolah. Karena di pagi hari sekitar jam 9 atau jam 10 merupakan saat dimana nyamuk mencari makanan dengan menggigit kulit. Jadi bukan malam hari. Untum antisipasi bisa memakai lotion anti nyamuk”, jelasnya.

Bagi masyarakat yang masih belum mengetahui gejala DB, Aviani menyebut sejumlah ciri yang harus dapat dikenali diantaranya adalah demam tinggi yang berlangsung selama 3 – 4 hari.

“Demam khas gejala DB yaitu demam tinggi 3 sampai 4 hari, tinggi terus dan susah turun panasnya. Dikasih paracetamol demamnya turun sebentar terus tinggi lagi. Nanti sekira hari ke 4 sampai 5 panasnya benar – benar turun seperti normal. Namun justru disaat itulah harus sangat waspada karena tiba – tiba demamnya akan kembali naik tinggi. Gambarannya seperti pelana kuda”, jelasnya saat ditemui.

Aviani menegaskan, demam DB berlangsung setidaknya selama 6 hari. Oleh karena itu, DB yang menyerang pembuluh darah ini apabila tidak segera ditangani, akan terjadi pendarahan. Cirinya ialah muncul bintik – bintik merah di kulit. Selain itu, cairan di tubuh pun akan semakin berkurang.

“Kondisi seperti itulah yang berbahaya dan justru terkadang bisa membuat kita kelewatan atau lengah. Oleh karena itu kita harus selalu waspada”, tegasnya.

Per November 2023, kasus DB yang paling banyak ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti yaitu sebanyak 47 kasus. Sedangkan wilayah yang paling rendah melaporkan kasus DB ialah Kecamatan Pucakwangi yang hanya ada 2 kasus. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *