Kandang Ayam yang Resahkan Warga Dapat Respon dari DLH

oleh -258 views

Seputarmuria.com, PATI – Moh Papek, warga Bulumanis Lor RT 1 RW 1, Kecamatan Margoyoso yang mewakili warga setempat merasa menderita sekali akibat terdapatnya kandang ayam di dalam perkampungan yang telah tiga tahun berjalan. Khususnya ialah, banyaknya lalat yang bahkan sampai masuk ke dalam rumah.

“Sudah melaporkan ke pihak desa maupun Dinas Lingkungan Hidup, namun jawabannya ialah masalah tersebut masih di proses dan belum ada hasilnya”, ungkapnya.

Ia menyayangkan atas belum adanya tanggapan terkait masalah tersebut. Terlebih bahwa ada rumah warga yang bahkan kamarnya dengan lokasi usaha tersebut. Dari pengamatannya, sebagian besar warga RT tersebut terkena dampaknya.

“Warga selalu resah terkait hal ini. Dan ada lima belas rumah yang terdampak langsung. Rumah saya setiap hari tercium bau kotoran. Sampai – sampai rumah saya tutup menggunakan gavalum”, paparnya.

Ia menegaskan bahwa lalat yang masuk ke dalam rumah mulai dari lalat yang biasa hingga lalat hijau yang besar. Ia berkata bahwa dulu tidak pernah ada lalat seperti itu sebelum ada kandang ayam.

“Sudah pernah ke RT dan desa tiga kali dan di mediasi dan Dinas Lingkungan Hidup satu kali. Pernah di survey juga bahkan dari Polsek. Itu kan pemiliknya bukan orang desa sini, tapi desa lain”, ceritanya.

Ia juga mengatakan bahwa sebelum dibangunnya kandang ayam tersebut, tidak ada sosialisasi maupun pemberitahuan kepada warga. Apabila kandang tersebut dibangun jauh dari pemukiman justru tidak akan menimbulkan masalah.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati, Purwadi membenarkan adanya informasi tersebut. Sebagaimana izin lingkungan yang telah diterima berupa SPPL, bahwa dampak yang timbul yaitu berupa sampah, bau dan lalat.

“Kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemilik yaitu menyelesaikan masalah sampah, kebersihan kandang serta dilakukan penyemprotan. Pemilik sebenarnya telah melakukan namun belum maksimal”, paparnya saat dikonfirmasi, Kamis (19/9/2019).

Oleh karenanya, lanjur Purwadi, pihaknya telah menerjunkan tim penyelesaian masalah pada tanggal 24 Agustus dengan mengundang pihak – pihak yang berwenang serta OPD terkait.

“Dari hasil monitoring, pemilik usaha telah berusaha membersihkan lingkungan. Yang mana pada rapat, telah dihasilkan berita acara terkait masalah tersebut serta ada komitmen dari pemilik usaha. Kami memahami bahwa warga sekitar protes, sebab lalat yang muncul tidak wajar”, tegasnya.

Pihaknya menghargai para pelaku usaha mandiri, namun dalam membangun usaha hendaknya diperhitungkan jarak lokasi usahanya dengan pemukiman penduduk. Secara estetika, seharusnya memang jauh dari lokasi pemukiman. Ia juga menyayangkan dengan sikap warga setempat yang awal dibangun usaha, tidak ada pengarahan terhadap pemilik usaha, baru setelah ada terjadi masalah, warga mulai ramai. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *