Inilah Sebabnya Pendidikan Agama Konghucu di Lasem – Rembang tak Berjalan Mulus

oleh -150 views

Seputarmuria.com, REMBANG – JAWA TENGAH – Tokoh Konghucu asal Lasem Haryanti mengungkapkan jika perkembangan dan pendidikan agama yang ia anut tak bisa berjalan mulus di Kabupaten Rembang. Khususnya Lasem.

Hal itu dikarenakan ada beberapa faktor. Salah satunya yang paling mendasar yaitu sumber daya manusia dan aturan pada saat orde baru kala itu.

Tak ayal di forum moderasi beragama bertajuk “Kehadiran Negara Dalam Melayani Umat” di klentheng Hok Tik Bio Sumberjo, Rembang, Selasa (28/11) itupun dimanfaatkannya untuk mengeluarkan uneg-unegnya tersebut.

Dia pun membeberkan jika di kawasan Kecamatan Lasem Rembang minim sekali bahkan belum ada pendidikan agama Konghucu. Baik di lingkungan sekolah dan lainnya dikarenakan guru agamanya tidak ada.

“Di tingkatan TK hingga jenjang SMA itu tidak ada. Sehingga anak didik yang ada di bangku sekolah kristen ya ikuti pendidikan agama yang ada di situ (kristen, red). Sedangkan yang ada di sekolahan katholik ya mengikuti pendidikan Katholik begitu,”akunya.

Tak sampai di situ saja, faktor lainnya yakni adanya tekanan dari pemerintah kala itu. Sehingga pembelajaran agama Konghucu tak bisa diakses oleh penganutnya.

“Dahulu kala sih ada ya pengajarnya dari Solo, berjalan berapa tahun gitu, kemudian berhenti, karena tekanan. Murid nggak berani. Setelah itu, nggak ada lagi,” imbuh Haryanti.

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) Menteri Agama RI Anna Hasbie mengakui jika pihaknya mendapat beberapa aspirasi dari umat Konghucu.

“Kita mendengarkan aspirasi dari masyarakat Konghucu. Itu hal yang penting. Jadi asupan juga buat Kementerian Agama, buat kami bisa mengembangkan program kami. Sebetulnya apa yang dibutuhkan masyarakat Konghucu,” ujar Anna.

Selain itu, Anna pun menjabarkan bilamana ada kendala semacam itu, maka nantinya dapat diberikan suatu solusi. Salah satunya ialah dengan cara pemetaan daerah masing-masing.

“Misal daerah yang mayoritas Kristen, kekurangan guru agama Islam. Begitu pula yang mayoritas Islam, kekurangan agama Kristen. Begitu sebaliknya dan lain sebagainya. Sehingga harus ada suatu pemetaan wilayah. Dengan begitu akan bisa menyasar kebutuhan pembelajaran dan pendidikan yang ada,” bebernya.

Sementara itu, terkait kendala yang dialami penganut konghucu di wilayah pantura ini, pihak Kepala Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Moh. Mukson pun memberikan gambaran bilamana pendidikan konghucu dapat dilakukan penjadwalan sekolah di hari Mingggu.

“Mungkin dapat dikumpulkan di satu tempat (proses belajar mengajar, red), nanti pengajarnya dibuatkan SK Kantor Kemenag. Terkait insentif dan sebagainya diusulkan ke pusat,”urainya.

Di satu sisi, diadakannya acara moderasi beragama ini nantinya diharapkan dapat mempererat rasa kasih sayang, persatuan di kalangan berbagai umat di Rembang. Terlebih lagi di berbagai kalangan Lasem ini sering dijuluki dengan sebutan “Tiongkok Kecil”.

“Kegiatan moderasi beragama bertujuan untuk mewujudkan terciptanya toleransi dan kerukunan umat beragama sehingga memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Kami bersyukur, banyak kawan-kawan yang merasakan manfaat kegiatan moderasi beragama. Kami berharap di tahun-tahun mendatang lebih ditingkatkan,” ucapnya.

Forum yang diikuti beberapa umat Konghucu, tokoh agama, mahasiswa serta warga sekitar itupun turut dihadiri oleh pejabat dari Kemenag RI. Antara lain yakni Jubir Menag RI Anna Hasbie, Kepala Pusat Bimbingan Konghucu Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI Susari, Ketua Tim Ortala Kanwil Kemenag Jateng Nur Kholis, dan Kepala Kantor Kemenag Rembang Moh. Muhson. (Ed).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *