Guna Mengetahui Kondisi Masyarakat Desa, Safin Ingin Data Warga Miskin Divalidkan

oleh -1,586 views

Seputarmuria.com, PATI – Secara umum, keberhasilan pemerintah juga tergantung dari sejauh mana angka-angka kemiskinan dapat ditekan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Saiful Arifin (Safin) kemarin, saat membuka Rakor Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) dan Stunting Kabupaten Pati tahun 2019 di Ruang Joyokusumo Setda Pati.

Turut hadir dalam kegiatan itu, Kepala BPS, Kepala Bappeda, Dinsos, DLH, Ketua Baznas, dan para perwakilan OPD terkait.

Safin tak lupa mengingatkan agar data warga miskin bisa divalidkan. “Supaya kita bisa lebih tahu desa mana saja yang perlu diperhatikan, agar tepat sasarannya”, imbuhnya.

Safin pun menyadari untuk bisa menekan angka kemiskinan masing-masing pihak tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

“Mari kita sama-sama. Apa yang sudah kita lakukan di sini agar bisa ditindaklanjuti oleh masing-masing OPD dan bisa mengurangi angka kemiskinan”, lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Pujo Winarno mengatakan Data kemiskinan makro dari data BPS, kemiskinan Kabupaten Pati tahun 2018 total 9,90% (123.940 jiwa) dan Kemiskinan Mikro Basis Data Terpadu (BDT) 2015 total 40% (177.865 jiwa) dan BDT 2018 total 40% (177.826 jiwa).

Untuk diketahui bahwa, gambaran penduduk miskin Kabupaten Pati tahun 2018, penduduk yang bekerja sebanyak 43,33% dan tidak bekerja 51,42%.

Lapangan pekerjaan utama Kepala Rumah Tangga Miskin (KRTM) di sektor pertanian sebesar 43,5. Sedangkan 68,4% rumah tangga pertanian merupakan petani gurem (memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar-red).

“Hubungan kemiskinan dengan stunting sangat dekat ketika rumah tangga RTM perempuan dia tidak bisa menyiapkan makanan yang bergizi. Kondisi ini mempercepat stunting”, jelas Pujo.

Pujo menambahkan, Kemiskinan perempuan, bisa dilihat jika sehari dia tidak bisa memenuhi makanan tiga kali sehari.

Sementara itu Pujo menjelaskan bahwa stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tak sesuai dengan kebutuhan gizi.

“Stunting terjadi saat janin masih dalam kandungan dan baru nampak setelah anak berusia dua tahun”, pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *