Ekonomi Pati di Tengah Pandemi

oleh -39 views

Seputarmuria.com, PATI – Pada 11 Maret 2020 lalu, World Health Organization (WHO) sudah mengumumkan status pandemi global untuk penyakit virus corona 2019 atau yang juga disebut corona virus disease 2019 (COVID-19). Itu artinya COVID-19 merupakan darurat internasional, terjadi di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia sehingga ada potensi menyerang pada siapa saja.

Siapapun bisa terkena infeksi Covid-19 dimanapun ia berada. Di Pati kondisi 25 Juni 2020, terdapat 3 kasus positif, 20 PDP, 9 sembuh dan 17 PDP meninggal dunia. (sumber: covid19.patikab.go.id).

Kondisi wabah yang sulit diprediksi berdampak serius disemua sektor. Kegiatan ekonomi cenderung melambat bahkan minus. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pertumbuhan ekonomi nasional bisa terkontraksi lebih dalam ke kisaran minus 4,8 persen sampai minus 7 persen pada kuartal II 2020 (CNN Indonesia).

Lesunya pasar nasional juga terlihat di daerah Pati, banyak pedagang mengeluh sepi akibat pendemi ini. Yang paling terpukul adalah sektor pariwisata, dimana mobilitas penduduk dibatasi maka hampir tiga bulan pertama (Maret, April dan Mei) sektor pariwisata macet total.

Kelompok berpendapatan rendah merupakan kelompok yang paling terdampak akibat Covid-19. Hasil survei menyebutkan, 70,53% responden dalam kelompok berpendapatan rendah (=< 1,8 Juta) mengaku mengalami penurunan pendapatan dimasa pandemi ini. Mereka adalah para buruh kasar, tenaga harian lepas, jasa transportasi, pedagang kecil dan lain-lain.

Dengan adanya pembatasan kegiatan ekonomi mengakibatkan pendapatannya turun dratis dibandingkan dengan sebelum ada Covid-19. Untuk kelompok berpendapatan besar meski tak separah kelompok pendapatan rendah tetapi kelompok ini juga terdampak. Hasil survei 30,34 persen kelompok berpendapatan diatas 7,2 Juta/bln mengalami penurunan pendapatan atau 3 dari 10 responden berpendapatan tinggi mengaku mengalami penurunan penghasilan.

Tidak hanya mereka yang jadi pengangguran yang pendapatannya turun, tetapi mereka yang masih bekerjapun mengalami penurunan. 36 persen responden mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat pendemi Covid-19.

Usaha dibidang makanan dan minuman yang merupakan kebutuhan utama masyarakatpun mengalami perlambatan, apalagi usaha perdagangan besar antar wilayah, usaha tambang yang tidak menjadi konsumsi harian masyarakat.

Banyak usaha makanan jadi, seperti warung dan restoran yang belum berani buka mengingat sepinya pembeli, pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi untuk biaya operasional usaha. Padahal, pos-pos pengeluaran masyarakat meningkat, untuk kebutuhan makanan dan minuman jadi dan.bahan makanan mentah.

Bila kondisi pandemi ini terus terjadi maka akibatnya akan semakin mempersulit ekonomi masyarakat. Meskipun dengan era new normal tetapi aktivitas ekonomi masih sulit tumbuh untuk sekadar tetap eksispun tidak mudah hal ini karena sedikitnya konsumsi masyarakat.

Daya beli masyarakat yang menahan konsumsi karena belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Masyarakat cenderung hanya mengkonsumsi barang-barang yang penting dan mendesak saja. Hal tersebut berbeda dengan kondisi sebelum pandemi. Masyarakat sadar harus berhemat ditengah penurunan pendapatan mereka.

Produktivitas yang masih tinggi di Kabupaten Pati adalah pertanian. Petani yang umumnya tinggal di perdesaan masih beraktivitas sebagaimana biasa. Mulai dari bercocok tanam hingga panen masih dilakukan sebagaimana mestinya.

Kendalanya adalah ketika pemasaran hasil pertanian. Untuk hasil pertanian yang tidak tahan lama seperti sayur-mayur cenderung harganya turun karena permintaan menurun sedangkan produksinya tetap, hanya bawang merah yang sempat mengalami kenaikan harga karena produksinya menurun.

Oleh : Suparman, Statistisi Muda di BPS Pati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *