Ditanya Soal Terbuat Apa Gas Air Mata? Peserta Sarasehan “Ngaji Generasi Milenial Anti Radikalisme” Jawab Serentak “Kenangan”

oleh -473 views

Seputarmuria.com, REMBANG – Kegiatan Sarasehan “Ngaji Generasi Milenial Anti Radikalisme yang digelar di aula SMA N 1 Lasem Rabu (29/5) sore berjalan santai dan khidmad.

Hal itu lantaran ratusan peserta yang didominasi para pelajar baik SMA N 1 Lasem, Aviecena, Muhammadiyaj dan lainnya itu disuguhi dengan berbagai pertanyaan arti dan makna Ekstrimisme, Radikalisme, Militansi bahkan ada pula gas air mata dari narasumber.

Tak pelak, para peserta pun menjawabnya dengan santai. Namun jawaban itupun tak serta merta mengabaikan apa arti sarasehan iti sendiri yang dikemas dengan sederhana dan buka puasa bersama tersebut.

Dalam sambutan awalnya, Muhammad Nadhif Shidqi selaku narasumber bercerita tentang kondisi pada tanggal 22 Mei 2019 lalu di depan kantor Bawaslu Pusat.

Dari awalan sambutan itu, ia lalu menjabarkan materi tentang Ekstrimisme, Radikalisme dan Militansi. 

“Di depan kantor bawaslu pada 22 Mei, merupakan sebentuk kerusuhan. Jadi di situ ada satu pihak yang puas terhadap hasil pemilu. Dan juga ada satu pihak tak puas. Sebenarnya ada mekasnisme tersendiri untuk menyalurkan ketidakpuasan tersebut,”cerita dia mengawali pembicaraan di kegiatan sarasehan.

Menurut dia, jika hal itu diibaratkan dengan tidak adanya peraturan yang dipatuhi. Sehingga kondisi kerusuhan pun tak bisa dihindari.

“Saat itu, mereka tak mau tunduk aturan. Mereka lakukan hal ini sebentuk radikalisasi. Sebab semua itu sudah ada jalurnya, ada prosedurnya, maunya kok sak kepenake dewe (sesuka dirinya, red),”ujar dia.

Oleh sebabnya dengan kondisi kerusuhan itulah, ia menilai jika pihak aparat keamanan harus menempuh langkah. Yakni memnubarkan massa dengan gas air mata. 

“Pertanyaannya? Terbuat dari apakah gas air mata,”tanya dia kepada peserta.

Namun pertanyaan itu justru dijawab dengan santai. Mereka serentak menjawab “kenangan”. Dengan jawaban itu seisi ruanganpun tertawa. Bahkan suasana itu menambah rasa kekeluargaan, keakraban antar narasumber dan peserta lainnya.

“Kenangan……..,”jawab semua peserta lalu ditanggapi dengan tertawa bersama di suasana santai saat sarasehan itu.

Kemudian, pria yang dikenal dengan sebutan Gus Nadhif itu melanjutkan materinya terkait dengan ektrimsme, radikalisme, dan militansi.

“Ekstrimisme, Radikalisem dan Militansi itu harus diartikan kata perkata. Ekstrim itu apa? yakni sesuatu yang diartikan dalam bentuk bahasa yang bermakna terlalu (berlebihan). Sebab sikap eksterim itu tidak baik,”uarinya.

Setelah itu ia menjabarkan arti dari radikal. Sehingga pihaknya pun mengimbau untuk selalu menjahui sikap tersebut. Mengingat sikap radikal itu ia artikan sebagai perubahan kondisi yang tidak melalui sebuah proses.

“Radikal itu di dalamnya mengandung makna perubahan merubah yang ujug ujug (secara tiba-tiba, red) sehingga jika dikaitkan dengan sifat, maka secara radikal sikapnya yang berubah. Di situlah muncul sikap radikalisme,”paparnya menjelaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *