Di Warung Nasi Baru, Makan Puas Cukup Bayar Rp 1.000

oleh -175 views

Seputarmuria.com, PATI – Pada gerobak yang mangkal di pelataran Pasar Puri Kabupaten Pati itu, terpasang spanduk bertulisan mencolok: “Warung Nasi Baru. Bayar Seribu untuk Kaum Dhuafa & Fakir Miskin; Bayar Rp 1.000,- Silakan Makan Sepuasnya”.

“Monggo, pak, bu”, Ratih Wijayanti bersama teman – temannya pengelola Warung Nasi Baru, menawari setiap orang yang datang atau kebetulan lewat untuk makan di warung mereka, Jumat (9/8/2019) pagi.

“Seribu, Pak. Monggo uangnya dimasukkan ke dalam kardus,” ujar Ratih pada seorang yang baru selesai makan.

Dengan Rp 1.000, pengunjung Warung Nasi Baru bukan hanya memperoleh nasi dan lauk. Mereka juga dipersilakan menikmati aneka gorengan, jajan pasar, kerupuk, dan air mineral yang ditata rapi di atas karpet yang digelar di depan dan belakang gerobak.

Ratih merupakan inisiator Komunitas Bunda Pati Berbagi, komunitas filantropi berbasis media sosial dan beranggotakan para ibu yang mengelola Warung Nasi Baru.

Ratih mengatakan, warung makanan murah di Pasar Puri bagi kaum duafa ini dibuka setiap Jumat pagi. Jumat ini merupakan pekan kedua.

Sebelum Komunitas Bunda Pati Berbagi berdiri sekira akhir Juni 2019, Ratih mengaku sendirian dalam membagikan makanan di kawasan Taman Stasiun Puri setiap Jumat.

“Kemudian, seorang kawan saya yang ada di Hongkong atau Taiwan bergabung. Kami kemudian lihat video kegiatan semacam ini (warung murah bagi duafa-red.). Kami nilai bagus, apalagi di Pati belum ada. Kami tertarik meniru, tapi kalau hanya berdua kami belum mampu,” ujarnya.

Lalu, ia pun mencoba menawarkan ide ini di Facebook. Postingannya langsung mendapat banyak respons positif. Bahkan, hari itu juga ada yang menyumbang termos dan perlengkapan masak lainnya.

“Saat ini kami 30-an orang anggota, semuanya teman-teman di Facebook. Awalnya saya buat fanpage dan unggah rencana ini. Kemudian banyak yang komentar ingin ikut, ada juga TKI di Singapura. Kemudian ada yang namanya Endang Puji, dia ini aktivis, ikut banyak komunitas. Dia share postingan saya ke banyak grup, sampai unggahan saya dilihat hampir 10 ribu orang,” ujarnya.

Di pekan perdana, Ratih dan kawan-kawannya menyediakan 250 porsi makanan yang habis hanya dalam 1,5 jam.

“Kemarin itu nasinya habis, tapi beberapa lauk masih. Akhirnya hari ini berasnya kami tambah 2 kilogram. Total 12 kilo yang kami masak. Menu lauknya bervariasi tiap pekan,” jelasnya.

Terkait modal memasak, lanjut Ratih, didapat dari donasi dan perolehan uang oleh pengunjung di minggu sebelumnya. Tidak ada iuran, siapa saja yang ingin menyumbang, tidak harus anggota komunitas, ia persilakan.

“Namun saat ini kami belum punya rekening khusus. Rencananya Sabtu besok mau membahas soal ini,” ucapnya.

Banyaknya pengunjung yang berprofesi sebagai tukang parkir, tukang becak, sopir angkot, dan bakul pasar, belum sarapan ketika berangkat kerja merupakan salah satu alasan khusus mengapa warung ini buka.

“Mereka kan menunggu dapat uang dulu baru bisa makan. Ini hal yang kedengarannya sepele, tapi makan pagi bisa meningkatkan semangat bekerja. Sementara ini kami buka pukul 9 pagi, ke depan kami usahakan buka lebih pagi di jam sarapan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, meski fokus pada kaum dhuafa, pihaknya tidak memilah siapapun yang datang. Siapa saja, ia persilahkan makan dengan membayar seribu.

Ia mengaku bahwa butuh dukungan berbagai pihak untuk mewujudkan rencananya ke depan, yakni membuka warung murah ini setiap hari, tak hanya seminggu sekali. Bahkan jika dimungkinkan, ia ingin merambat di kegiatan sosial lainnya.

Gunawi (60), pengemudi angkot jurusan Pati-Tlogowungu, mengaku senang dengan adanya Warung Nasi Baru. Meski ia memasukkan uang Rp 1.000 ke dalam kardus yang disediakan, makan pagi ini menurutnya dianggap gratis.

“Seribu itu apalah artinya. Pia (bakwan) saja harganya satu seribu. Uang itu paling ya buat bantu isah-isah (cuci piring). Saya berterima kasih pada yang memberi makan, apalagi sekarang ini cari penumpang sulit,” ungkapnya.

Kepala Pasar Puri Kartono yang ikut merespon baik hal tersebut mengatakan, ia mendukung kegiatan Warung Nasi Baru guna membantu masyarakat kurang mampu.

“Sebelum membuka ini, mereka sudah izin pada kami. Dari pihak memberi fasilitas tempat tanpa retribusi. Sebab ini betul-betul untuk kegiatan sosial. Kami harap kegiatan ini bisa dicontoh,” tutupnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *