Desa Tunggulsari Menjadi Lokus Implementasi Model Bisnis Hilirisasi Pangan

oleh -88 views

Seputarmuria.com, REMBANG – JAWA TENGAH – Kelompok wanita pengolah dan pemasar produk olahan ikan di Desa Tunggulsari Kecamatan Kaliori, Rembang, Jawa Tengah, terpilih menjadi lokus implementasi model bisnis hilirisasi pangan oleh Bank Indonesia (BI).

Program ini bertujuan untuk mendorong para ibu-ibu di desa setempat mengembangkan hasil olahan perikanan agar bernilai jual lebih tinggi.

Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Meysara Cahyadi, menyampaikan bahwa komoditas perikanan menjadi salah satu perhatian pemerintah dan BI dalam melakukan hilirisasi pangan. Desa Tunggul dipilih karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan kualitas hasil perikanan yang bagus.

Melalui program berkelanjutan yang akan berjalan beberapa tahun ini, BI akan memberikan support dan pendampingan kepada kelompok wanita Desa Tunggulsari untuk meningkatkan kelembagaan dan pengembangan usahanya. Kreativitas para ibu-ibu menjadi kunci dalam meningkatkan hasil produksinya.

“Program ini akan mendukung ibu-ibu sekalian. Nanti apakah sifatnya pelatihan, mendatangkan narasumber, atau pelatihan praktis. Pada prinsipnya adalah membantu ibu-ibu meningkatkan kemampuan, kapasitas, dan mendukung usaha yang telah dijalankan,” ujar Meysara saat kick off implementasi model bisnis hilirisasi pangan di balai Desa Tunggulsari.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang, Sofyan Cholid, mengatakan bahwa pihaknya ingin para ibu-ibu di Desa Tunggulsari menjadi pelaku usaha yang sukses dan tidak hanya mendapatkan keuntungan tipis dari produk olahan perikanan yang dijual.

“Melalui model bisnis hilirisasi dari BI ini, kami berharap kedepan hasil olahan perikanan di Desa Tunggulsari semakin berkembang dan keuntungan dari produk yang dijual semakin besar,” jelas Sofyan.

Kepala Desa Tunggulsari, Endang Winarsih, mengungkapkan bahwa belakangan ini yang menjadi kendala kelompok wanita di desanya dalam memproduksi olahan ikan adalah ketersediaan Gas LPG 3 Kg. Padahal pada momen Ramadan seperti ini jumlah permintaan pasar sedang meningkat.

“Di puasa ini permintaan sangat banyak sekali. Permintaan memang banyak tapi kendalanya Gas yang langka. Jadi kalau mau produksi mikir-mikir dapat gas dari mana,” ungkapnya.

Di samping kendala yang sedang dihadapi, Endang meminta para ibu-ibu kelompok wanita pengolah dan pemasar produk olahan ikan di desanya mengikuti sosialisasi program hilirisasi dari BI dengan baik. Ia berharap ada ilmu baru yang didapat untuk mengembangkan kualitas usaha dan pendapatan warganya. (Ed).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *