Booktalk Festival Kota Lama, Bedah 3 Karya Penulis Indonesia

oleh -618 views

Seputarmuria.com, SEMARANG – Dalam gelaran Booktalk pada Festival Kota Lama Semarang di Amphitheater Oudetrap, Rabu (18/9/2019) sore, terdapat tiga novel karya penulis Indonesia yang diperbincangkan.

Ketiga novel tersebut ialah A Sky Full of Stars karya Nara Lahmusi (Gramedia Pustaka Utama, 2019), Happy Birth-Die karya Risma Ridha Anissa (Bentang Belia, 2019), dan Komorebi karya Niken Hergaristi (Basabasi, 2019).

Panitia Booktalk Festival Kota Lama, Desmira Margi Utami mengatakan, Booktalk merupakan rangkaian acara Festival Kota Lama #8 yang berupa bedah buku. Booktalk diisi oleh beberapa penulis lokal dan penerbit lokal yang karyanya sudah berskala nasional.

“Tujuan acara ini untuk memperkenalkan karya dari para penulis serta menumbuhkan minat membaca,” ujarnya.

Menceritakan novel teen-lit karyanya, Nara Lahmusi menjelaskan, A Sky Full of Stars mengisahkan tentang tokoh bernama Raya Angkasa, putri seorang petugas kebersihan yang bercita-cita kuliah kedokteran di Universitas Indonesia.

“Tidak banyak remaja SMA yang sudah merencanakan detail masa depannya. Bakal nerusin di jurusan apa? Kuliah di mana? Bahkan harus ikut memikirkan biaya yang dibutuhkan untuk meraih impian dan cita-citanya,” ungkap lelaki asal Karangawen, Demak ini.

Sosok Raya Angkasa, lanjutnya, menjadi potret remaja yang kukuh mengejar impian meski harus menaklukan keterbatasannya. Raya digambarkan sebagai siswa cerdas tapi melarat yang seolah tidak punya kesempatan mudah untuk meraih cita-cita tinggi.

“Orang dengan keadaan seperti Raya ibarat bintang yang tenggelam. Sinarnya tak tampak oleh siapa pun. Namun, Raya tidak menyerah begitu saja. Dia selalu mengimani kata-kata Bung Karno, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Kalau engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,” tambahnya.

Sementara itu, Risma Ridha Anissa, novelis Happy Birth-Die mengatakan, novelnya mengisahkan sosok Pijar Malam Hari, gadis ajaib yang mampu melihat kematian dari orang-orang yang sedang berulang tahun. Ia menyadari, bahwa di balik perayaan ulang tahun mewah, bisa jadi akan ada tangis kesedihan yang menunggu.

“Cerita dalam novel ini mencoba mengajak kita untuk lebih banyak bersyukur dan mencintai kehidupan kita sendiri,” paparnya.

Di kesempatan tersebut pula, penulis novel Komorebi, Niken Hergaristi menjelaskan, karyanya bercerita tentang pentingnya memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Ia bercerita, melalui tokoh Kun dan Arimbi, ia ingin berkisah perihal bagaimana waktu mereka terlewat. Kun selama ini menghabiskan waktunya tenggelam dalam kebencian, padahal ada hal yang harus dia perjuangkan.

“Lalu ada Arimbi yang memilih menghabiskan waktunya dengan bahagia. Dia hanya ingin menikmati hari yang sedang dijalaninya tanpa memusingkan masa depan,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *