Anggaran Minim, Pelabuhan Sluke Bakal Pakai Ban Bekas untuk Pengganti Rubber Fender

oleh -773 views

Seputarmuria.com, REMBANG – Pemanfaatan pelabuhan Rembang yang berada di Kecamatan Sluke saat ini terus diupayakan oleh pihak terkiat. Dalam hal ini ialah Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kelas III Rembang.

Oleh sebabnya pihak UPP telah berusaha keras untuk bisa melayani bongkar muat kapal setiap saat.

Dari pelayanan itu, tentunya pihak UPP bukan tanpa hambatan. Salah satu hambatan yang saat ini dihadapi ialah terkait Breasting Dolphin (BD) dan Rubber Fender yang ada di pelabuhan atau dermaga.

Di mana, Breasting Dolphin (BD) itu ialah tempat kapal bersandar pada dermaga yang dibangun pada trestel. Pada dolphin ini kapal ditambatkan pada bolder, dan dilengkapi dengan fender ( sejenis karet) untuk meredam benturan kapal pada dolphin

Saat dikonfirmasi media, Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kelas III Rembang Dimyati mengakui jika saat ini anggaran untuk perawatan fasilitas pelabuhan terlalu minim di setiap tahunnya.

“Kaitannya dengan perencanaan perawatan kami terkait dengan perawatan dermaga, dolphin, penerangan dermaga juga,”katanya.

Sementara itu, dalam perawatannya ia juga membeberkan bahwa hal itu juga terkait dengan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

“Kita kembalikan lagi nilai PNBP yang ada di wilayah. Apalagi sekarang tidak ful diberikan UPP setempat namun tersentra di pusat,”paparnya.

Tak hanya itu, dalam perawatan dermaga pihaknya mengakui jika saat ini ada pengurangan anggaran di setiap tahunnya.

“Sekarang ada pemangkasan anggaran di pusat. Ya sekitaran per tahunnya ada Rp. 5 sampai 10 juta untuk perawatannya,”rincinya.

Di suatu sisi, ia juga mengakui bahwa perjuangan untuk pengajuan anggaran yang maksimal terkait perawatan pelabuhan masih terhadang beberapa kasus. Seperti halnya belum selesainya sengketa tanah pelabuhan tersebut.

“Perjuangkan itu, kadang kita terhempas dengan permasalhaan perdata (lahan). Kita juga selalu ingin pengembangan pelabuhan di Rembang dapat perspektif demi peningkatan PAD-nya, saya berjuang keras itu,”urainya.

Ia menilai jika ada fasilitas pelabuhan yang tersapat kerusakan, tentunya harus diatasi dengan cepat. Meskipun harus menggunakan cara manual. Misalkan saja mengganti fasilitas itu dengan bahan yang sama.

“Ya, harus segera diperbaiki, apalagi sekarang kemampuan kami bisa ancang-ancang (persiapan) kai jangan sampai tertunda pelayanan kapal. Sebab satu bulan terdapat 15 kapal yang bongkar muat,”rincinya.

Tak sampai di situ juga, ia juga akan memakai ban  bekas untuk dijadikan Rubber Fender (karet) sejenis karet) untuk meredam benturan kapal pada dolphin.

“Sudah kami usulkan terkait perwatan dan perbaikan kerusakan di sana. Itupun pun sifatnya anggaran per tahun, kalo pun hal-hal yang emergency ya bisa menggunakan ban bekas saja. Itupun bukan yang legal, dan itu juga inisiatif. Sehingga kita jadi penyelenggara jangan sampai pelayanan tertunda,”pungkasnya.

Selain fasilitas, pihak UPP juga melarang keras terhadap orang yang tak berkepentingan untuk masuk pelabuhan. Hal itu diungkapkan guna menghindari kejadian yang tak diinginkan.

“Dengan keterbatasan petugas KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai) sejumlah 5 orang di sana, memang belum sepenuhnya memenuhi keamanan di sana. Kita yakin mereka (orang) itu ¬†masuk melalui jalur tak resmi (jalur tikus) untuk masuk ke pelabuhan,”pungkasnya.¬†(Ed)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *