Amanat Pendobrak Semangat Mendikbud di HGN dan HUT PGRI

oleh -241 views

Seputarmuria.com, PATI – Bertempat di Lapangan Alugoro, Senin (25/11/2019), dilaksanakan upacara dalam rangka Hari Guru Nasional dan HUT ke – 74 PGRI.

Bertindak sebagai Irup dalam upacara tersebut, Bupati Pati Haryanto membacakan amanat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Dalam pidato oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan bahwa guru di Indonesia memiliki tugas yang mulia sekaligus yang tersulit.

Yaitu, para guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberikan aturan dibandingkan dengan pertolongan.

“Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas. Tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas”, ujarnya.

Ia melanjutkan bahwa guru tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian. Tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak oleh berbagai pemangku kepentingan.

“Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia dan sekitarnya. Tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan”, imbuhnya.

Ia juga menyebut para guru frustasi karena tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghapal. Para guru juga tahu setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

“Anda ingin setiap murid terinspirasi, namun anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi. Saya tidak akan memberi janji – janji kosong kepada anda. Perubahan ialah hal yang sulit dan penih ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang demi kemerdekaan belajar di Indonesia”, tegasnya.

Namun menurutnya, perubahan tidak dapat dimulai dari atas, sebab semuanya berawal dan berakhir dari guru. Ia berpesan, agar para guru jangan menunggu aba – aba, jangan menunggu perintah, namun ambil langkah pertama.

Di akhir amanat, ia memberikan poin – poin penting yang harapannya dapat diterapkan oleh para guru yaitu, ajaklah kelas untuk berdiskusi jangan mendengar, berikan kesempatan pada murid untuk mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri serta tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

“Apapun perubahan kecil itu, apabila jika setiap guru melakukannya secara serentak, kepala besar bernama Indonesia pasti akan bergerak”, pungkasnya. (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *